Darmin mengatakan pembengkakan defisit masih disebabkan oleh sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Sentimen tersebut berpotensi menyebabkan neraca perdagangan defisit. Hingga Oktober kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar US$5,51 miliar.
"Dengan adanya dinamika baru seperti perang dagang, maka defisit transaksi berjalan mungkin bisa US$25 miliar, US$26 miliar, bahkan hingga US$27 miliar. Naik dari tahun lalu yang sekira US$17 miliar," jelas Darmin, Rabu (28/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut, berbanding terbalik dibanding tahun lalu. Pada 2017, neraca dagang surplus US$11,84 miliar. Mantan Gubernur Bank Indonesia ini menuturkan, neraca perdagangan tahun ini juga mencatat anomali, di mana impor barang konsumsi melesat tajam hingga mencapai 25,71 persen secara tahunan (year-on-year) per Oktober.
Darmin mengklaim dalam jangka pendek kebijakan tersebut efektif menekan impor. Hanya saja, perbaikan defisit transaksi berjalan sendiri disebutnya masih belum bisa didorong dengan penguatan ekspor.
Sebab, ekspor sendiri membutuhkan investasi terlebih dulu, sehingga masih belum bisa diharapkan dalam jangka pendek. "Kalau menaikkan ekspor secara besar itu perlu waktu, perlu investasi terlebih dulu. Jadi memang defisit transaksi berjalan itu tidak mudah diubah dalam jangka pendek," imbuh dia.
Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara memprediksi defisit transaksi berjalan bisa mencapai US$25 miliar hingga akhir tahun ini. Meski angkanya diharapkan bisa di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), namun angka ini lebih besar dibanding tahun lalu yang hanya 1,8 persen dari PDB.
"Bahkan mungkin angka ini bisa lebih (dari US$25 miliar)," ujar Mirza beberapa waktu lalu.
Di kuartal III 2018, BI mencatat defisit transaksi berjalan sudah mencapai 3,38 persen dari PDB. Meski demikian, secara tahun kalender, defisit transaksi berjalan masih di angka 2,86 persen dari PDB.