Darmin Ramal Defisit Transaksi Berjalan 2018 Capai US$27 M

CNN Indonesia | Rabu, 28/11/2018 13:13 WIB
Darmin Ramal Defisit Transaksi Berjalan 2018 Capai US$27 M Menko Perekonomian Darmin Nasution memprediksi defisit transaksi berjalan 2018 tembus US$27 miliar membengkak 56,07 persen dari tahun kemarin. (Dok. Kemenko Perekonomian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution memprediksi defisit transaksi berjalan tahun ini akan mencapai US$27 miliar, membengkak 56,07 persen dari tahun kemarin yang mencapai US$17,3 miliar.

Darmin mengatakan pembengkakan defisit masih disebabkan oleh sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Sentimen tersebut berpotensi menyebabkan neraca perdagangan defisit. Hingga Oktober kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar US$5,51 miliar.

"Dengan adanya dinamika baru seperti perang dagang, maka defisit transaksi berjalan mungkin bisa US$25 miliar, US$26 miliar, bahkan hingga US$27 miliar. Naik dari tahun lalu yang sekira US$17 miliar," jelas Darmin, Rabu (28/11).


Darmin mengatakan mengatasi defisit transaksi berjalan tahun ini bukan perkara mudah. Sebab, tahun ini defisit sangat dipengaruhi oleh kinerja neraca perdagangan yang kinerjanya merosot.


Kondisi tersebut, berbanding terbalik dibanding tahun lalu. Pada 2017, neraca dagang surplus US$11,84 miliar. Mantan Gubernur Bank Indonesia ini menuturkan, neraca perdagangan tahun ini juga mencatat anomali, di mana impor barang konsumsi melesat tajam hingga mencapai 25,71 persen secara tahunan (year-on-year) per Oktober.

Ia memperkirakan kenaikan impor ini ada hubungannya dengan maraknya belanja daring (e-commerce) yang dilaksanakan lintas batas. Pemerintah sebetulnya sudah mengantisipasi derasnya impor barang konsumsi dengan meningkatkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 impor bagi 1.147 pos tarif.

Darmin mengklaim dalam jangka pendek kebijakan tersebut efektif menekan impor. Hanya saja, perbaikan defisit transaksi berjalan sendiri disebutnya masih belum bisa didorong dengan penguatan ekspor.


Sebab, ekspor sendiri membutuhkan investasi terlebih dulu, sehingga masih belum bisa diharapkan dalam jangka pendek. "Kalau menaikkan ekspor secara besar itu perlu waktu, perlu investasi terlebih dulu. Jadi memang defisit transaksi berjalan itu tidak mudah diubah dalam jangka pendek," imbuh dia.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara memprediksi defisit transaksi berjalan bisa mencapai US$25 miliar hingga akhir tahun ini. Meski angkanya diharapkan bisa di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), namun angka ini lebih besar dibanding tahun lalu yang hanya 1,8 persen dari PDB.

"Bahkan mungkin angka ini bisa lebih (dari US$25 miliar)," ujar Mirza beberapa waktu lalu.

Di kuartal III 2018, BI mencatat defisit transaksi berjalan sudah mencapai 3,38 persen dari PDB. Meski demikian, secara tahun kalender, defisit transaksi berjalan masih di angka 2,86 persen dari PDB.

(glh/agt)