OJK Antisipasi Penurunan Ekonomi Global dari Perang Dagang

CNN Indonesia | Jumat, 30/11/2018 05:25 WIB
OJK Antisipasi Penurunan Ekonomi Global dari Perang Dagang Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik Anto Prabowo. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan masih terjaga, didukung kinerja transaksi keuangan yang menguat dan profil risiko yang terkelola.

Pernyataan tersebut disimpulkan dalam hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK seperti dikutip dari keterangan tertulis.

Namun, regulator jasa keuangan itu mengaku terus memantau risiko penurunan ekonomi yang berasal dari pengetatan likuiditas global serta kelanjutan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.


"OJK akan terus memantau dinamika pasar keuangan dan berhati-hati menyikapi penguatan pasar keuangan pasar negara berkembang, sehingga tidak mengganggu kinerja jasa keuangan serta stabilitas sistem keuangan nasional," ungkap Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik Anto Prabowo dalam keterangan tertulis.

Sepanjang Oktober hingga November 2018, pasar keuangan global, terutama di negara berkembang menguat sebagai efek pemilihan umum midterm Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan dapat meningkatkan akurasi pengambilan kebijakan AS.

Rilis data tenaga kerja dan inflasi AS yang berada di bawah ekspektasi pasar telah menahan kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan indeks mata uang dolar AS. Penurunan harga minyak dan kesepakatan pemisahan Inggris dari Uni Eropa (Britania Exit/Brexit).

Perkembangan global itu diiringi dengan kinerja emiten yang terus membaik pada kuartal III 2018, sehingga memberi sentimen positif terhadap pasar keuangan domestik.

Per 23 November 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan sebesar 3 persen disertai volatilitas yang rendah. Penguatan IHSG didorong oleh sektor keuangan, industri dasar, dan properti. Investor asing mencatatkan beli bersih Rp9,5 triliun.

Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil tenor jangka pendek, menengah, dan panjang menyusut masing-masing 34 basispoin (bps), 52 bps, dan 49 bps dalam perhitungan bulanan. Investor asing mencatatkan beli bersih Rp30,3 triliun.

Kinerja intermediasi sektor jasa keuangan juga bergerak positif pada Oktober 2018. Kredit perbankan tumbuh 13,35 persen dalam perhitungan tahunan, lebih tinggi dari pertumbuhan pada September lalu. Di sisi lain, piutang pembiayaan hanya tumbuh 5,92 persen atau lebih rendah dari capaian September 6,06 persen.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 7,6 persen atau lebih tinggi dari raihan September yang hanya 6,6 persen. Premi asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi per Oktober 2018 masing-masing tercatat Rp156,09 triliun dan Rp69,74 triliun atau melonjak dari premi bulan sebelumnya masing-masing tercatat Rp141,14 triliun dan Rp62,74 triliun.

Di bursa saham, penghimpunan dana oleh korporasi sampai 23 November 2018 telah mencapai Rp156 triliun. Jumlah emiten baru sepanjang tahun tercatat 56 emiten, lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang baru terbuka sepanjang tahun 2017 sebanyak 46 emiten. Penghimpunan dana didominasi oleh emiten di sektor keuangan sebesar 56,91 persen.

Profil risiko lembaga jasa keuangan juga terjaga pada level yang terkelola. Rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) bruto perbankan tercatat 2,65 persen, sedikit lebih rendah dari rasio bulan sebelumnya 2,66 persen. Sedangkan rasio non-performing financing (NPF) perusahaan pembiayaan berada pada level 3,21 persen, naik tipis dari level 3,17 persen pada September 2018.

Permodalan lembaga jasa keuangan tercatat pada level yang cukup tinggi. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan per Oktober 2018 tercatat sebesar 23,09 persen, dari sebelumnya 22,91 persen. Sedangkan risiko berbasis modal (risk-based capital/RBC) industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 308 persen dan 418 persen. (lav/wis)