BPS Sebut Daya Beli Buruh Tani November Membaik

CNN Indonesia | Selasa, 04/12/2018 06:16 WIB
BPS Sebut Daya Beli Buruh Tani November Membaik Ilustrasi petani. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan tingkat daya beli buruh tani meningkat pada November 2018 dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut tercermin dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) yang naik 0,09 persen menjadi 103,12.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan kenaikan NTP terjadi karena tingkat harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan yang mereka bayarkan. Tercatat, harga yang diterima petani meningkat 0,26 persen, sementara yang dibayarkan petani hanya meningkat 0,17 persen.

Ia bilang, perbaikan tersebut disebabkan oleh peningkatan harga sejumlah komoditas pangan yang dihasilkan petani. Sedangkan kenaikan harga atau inflasi di pedesaan cukup stabil dari bulan sebelumnya, sementara bila dibandingkan dengan inflasi nasional lebih rendah.


"Inflasi pedesaan pada November 2018 hanya sebesar 0,12 persen, jauh lebih rendah. Sedangkan inflasi nasional mencapai 0,27 persen," ucapnya di kantor BPS, Senin (3/12).


Berdasarkan sektornya, peningkatan daya beli buruh tani dirasakan oleh petani di sektor tanaman pangan sebesar 1,37 persen. Peningkatan terjadi karena ada kenaikan harga jual gabah dan jagung di tingkat petani.

"Harga gabah meningkat 1,86 persen dan harga jagung 1,01 persen," terangnya.

Pengaruh dari kenaikan harga gabah dan jagung ini membuat rata-rata daya beli buruh tani meningkat. Walaupun mengalami peningkatan, BPS juga mencatat daya beli buruh tani di sektor lain justru menurun. Daya beli buruh tani sektor hortikultura misalnya turun 0,69 persen.

"Ada penurunan harga komoditas sayur-sayuran, seperti petai dan tomat. Begitu juga dengan buah-buahan, seperti mangga dan jambu biji, serta tanaman obat, misalnya jahe dan kencur," katanya.
BPS Sebut Daya Beli Buruh Tani November Membaik(CNN Indonesia/Safir Makki)

Begitu pula dengan daya beli buruh tani sektor tanaman perkebunan rakyat yang turun 0,69 persen, sektor peternakan merosot 0,26 persen, dan perikanan menyusut 0,47 persen. Tak ketinggalan, daya beli buruh ikan tangkap dan ikan budidaya, masing-masing turun 0,7 persen dan 0,3 persen.

"Beberapa komoditas yang turun harganya, yaitu sawit, kemiri, ikan tongkol, ikan cakalang, ikan nilem, dan ikan lele," jelasnya.

Berdasarkan provinsi, peningkatan daya beli tertinggi terjadi di Sumatera Barat karena kenaikan harga kakao sebsar 3,65 persen. Sementara penurunan daya beli dirasakan buruh tani di Riau lantaran harga minyak sawit mentah turun mencapai 7,31 persen.

(uli/agt)