Pemerintah Terbitkan SBN Rp825 Triliun pada 2019 Mendatang

CNN Indonesia | Selasa, 04/12/2018 20:30 WIB
Pemerintah Terbitkan SBN Rp825 Triliun pada 2019 Mendatang Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mematok penerbitan SBN bruto tahun depan di angka Rp825,7 triliun, turun 3,59 persen dibanding tahun ini. (ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mematok penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) bruto tahun depan di angka Rp825,7 triliun. Penerbitan tersebut turun 3,59 persen dibanding Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang mencapai Rp856,49 triliun.

Namun, jika dilihat secara menyeluruh, penerbitan bersih SBN tahun depan berada di angka Rp388,96 triliun atau menurun dibanding APBN 2018 yang mencapai Rp414,52 triliun. Lebih lanjut, ia merinci rencana penerbitan SBN di tahun depan tersebut.

Menurut dia, penerbitan Surat Utang Negara (SUN) akan mencapai 70 persen hingga 75 persen dari penerbitan SBN tahun depan. Sementara itu, sisa SUN sebesar 25 persen hingga 30 persen akan diterbitkan dalam bentuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Namun penerbitan tersebut bergantung kondisi pasar yang terjadi di tahun depan. "Fleksibilitas pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan utang untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan APBN," jelas Sri Mulyani dikutip dari laman resmi Kementerian Keuangan, Selasa (4/12).



Selain dari jenis SUN, Sri Mulyani juga merinci penerbitan SBN dari segi denominasi. Rencananya, sebanyak 14 persen hingga 17 persen SBN akan diterbitkan dalam bentuk SBN valuta asing yang ditujukan sebagai komplementer demi menghindari crowding out effect di dalam negeri. Crowding out effect sendiri adalah aksi berebut dana antara pemerintah dan korporasi dalam menghimpun dana.

Dengan kata lain, maka sisa SBN 83 persen hingga 86 persen akan diterbitkan dalam denominasi rupiah. "Ini dapat disesuaikan dengan potensi sumber pembiayaan lainnya dan kebutuhan pembiayaan," imbuh dia.


Kemudian, ia juga mengatakan bahwa lelang SBSN dan SUN tahun depan akan dilaksanakan 24 kali. Sementara untuk mekanisme non lelang seperti bookbuilding bagi investor ritel dan metode penjualan obligasi dengan menawarkan langsung kepada sekelompok kecil investor (private placement) akan mengambil porsi 22 persen hingga 24 persen dari penerbitan SBN bruto.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan, rincian tersebut merupakan strategi Kemenkeu dalam melancarkan pembiayaan tahun depan. Strategi dijalankan karena ia memperkirakan tekanan pasar keuangan masih akan berlanjut hingga tahun depan.

Menurut dia, terdapat beberapa tekanan yang dialami Indonesia tahun depan baik dari sisi internal maupun eksternal. Di sisi domestik, tekanan akan datang dari defisit neraca transaksi berjalan yang masih akan besar.

Sementara dari sisi eksternal, tekanan akan datang dari normalisasi kebijakan moneter dan ekspansi fiskal di AS. Tekanan juga akan datang dari faktor geopolitik. 

"Selain itu, tahun 2018 yang diwarnai dengan tren kenaikan Fed Fund Rate dan peningkatan yield US Treasury seiring peningkatan Indeks dolar AS di pasar keuangan yang berdampak pada kenaikan yield SBN juga diperkirakan berlanjut di tahun 2019," pungkasnya. (glh/agt)