Insiden Penembakan, Uraian Fakta Proyek Jembatan di Papua

CNN Indonesia | Selasa, 04/12/2018 18:37 WIB
Insiden Penembakan, Uraian Fakta Proyek Jembatan di Papua Ilustrasi jembatan. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya).
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Indonesia dikejutkan dengan insiden penembakan terhadap sejumlah pekerja yang membangun proyek Jembatan di Papua, Minggu (2/12) lalu.

Berdasarkan informasi dari Humas Polda Papua, peristiwa penembakan yang mengakibatkan korban meninggal dunia tersebut diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) terhadap pekerja PT. Istaka Karya (Persero).

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengonfirmasi korban penembakan adalah pekerja pembangunan Jembatan Kali Aorak (KM 102+525) dan Jembatan Kali Yigi (KM 103+975) di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.



Kedua jembatan merupakan bagian dari Trans Papua segmen 5 yakni, ruas Wamena - Habema - Mugi - Kenyam - Batas Batu - Mumugu dengan panjang 278,6 km.

"Kami sangat menyesalkan terjadinya kembali tindakan penembakan terhadap para pekerja konstruksi pembangunan Jembatan Kali Yigi dan Jembatan Kali Aorak," ungkap Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam keterangan tertulis, Selasa (4/12).

Antara kurun 2016 hingga 2019, Kementerian PUPR melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional XVIII Papua, Ditjen Bina Marga memprogramkan pembangunan 35 jembatan pada ruas Wamena - Habema - Mugi - Kenyam - Batas Batu - Mumugu untuk melengkapi prasarana jalan yang telah tersambung seluruhnya.


Berdasarkan rinciannya, 14 jembatan dikerjakan oleh PT Istaka Karya dengan nilai kontrak Rp184 miliar, sementara 21 jembatan dibangun PT Brantas Abipraya senilai total kontral Rp246,8 miliar.

Menurut perkembangannya, sebanyak 11 jembatan sedang dalam pelaksanaan, dan tiga jembatan akan mulai dikerjakan 2019.

PT Brantas Abipraya mengerjakan proyek pembangunan 21 jembatan dengan nilai kontrak Rp246,8 miliar. Sebanyak lima jembatan di antaranya sudah selesai yakni, Jembatan Gat III, Gat II, Arwana, Merek dan Wusi.


Sedangkan sembilan jembatan sedang dalam pelaksanaan antara lain, Kali Kotek I, Kali Wolgilik, Kali Jun, Kali Labi, Kali Abeak, Kali Simal, Kali Moit, Kali Dumit dan Kali Rora). Namun, proyek dihentikan sejak 4 bulan lalu karena ada korban/gangguan keamanan yang serius. Sisanya, tujuh jembatan akan mulai dikerjakan pada 2019.

Tanpa ada jembatan, ungkap Basuki, para pengguna jalan harus melintas sungai pada ruas-ruas tersebut. Saat ini, progres pembangunan 35 jembatan tersebut sudah mencapai 70 persen.

Menurut dia, pembangunan jalan dan jembatan pada ruas ini didukung oleh masyarakat Papua karena menjadi jalur terdekat dari Pelabuhan Mumugu dengan penduduk di kawasan Pegunungan Tengah. Keberadaan jalan tersebut sangat vital untuk mengurangi biaya logistik dan menurunkan tingkat kemahalan di kawasan Pegunungan Tengah, Papua.


Namun, mempertimbangkan soal keamanan, pemerintah akan menghentikan sementara kontrak pembangunan jembatan pada ruas Wamena - Habema - Mugi - Kenyam - Batas Batu - Mumugu mulai hari ini, Selasa (4/12). Pembangunan akan dilanjutkan kembali sesuai rekomendasi TNI dan Polri.

Kementerian mengaku mendukung sepenuhnya upaya dan langkah cepat aparat keamanan untuk menemukan dan menindak tegas para pelaku. Dengan demikian, tercipta suasana yang kondusif bagi para staf, kontraktor maupun konsultan yang bekerja untuk membangun infrastruktur demi keadilan sosial dan kesejahteraan di Papua. (lav/lav)