BPS Sebut Jumlah Desa Tertinggal Turun 6.518

CNN Indonesia | Senin, 10/12/2018 15:28 WIB
BPS Sebut Jumlah Desa Tertinggal Turun 6.518 Ilustrasi desa tertinggal. (REUTERS/Susana Vera)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan jumlah desa tertinggal turun 6.518. Kesimpulan atas penurunan jumlah desa tertinggal tersebut didasarkan pada hasil pendataan Potensi Desa (Podes) yang dilaksanakan BPS beberapa waktu lalu.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan pengurangan jumlah desa tertinggal tersebut melewati target pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Dalam RPJMN pemerintah menargetkan selama lima tahun jumlah desa tertinggal bisa ditekan 5.000. Begitu pula, target penambahan desa mandiri melewati target 2.000 desa.

"Ini sebuah capaian yang patut diapresiasi dan ke depan patut ditelisik persoalan yang masih ada di desa. Ini juga hasil kerja keras Kementerian Desa dan kementerian lain. Kami harapkan jumlah desa mandiri terus meningkat dan desa tertinggal semakin berkurang," ujarnya.


Dalam Podes 2018, terdapat Indeks Pembangunan Desa (IPD). Indeks tersebut digunakan untuk menunjukkan tingkat perkembangan desa dengan status tertinggal, berkembang, dan mandiri.



IPD menghasilkan desa tertinggal sebanyak 14.461 desa (19,17 persen), desa berkembang sebanyak 55.369 desa (73,4 persen), dan desa mandiri sebanyak 5.606 desa (7,43 persen).

Terkait desa tertinggal, Suhariyanto mengatakan kebanyakan berada di pulau Papua, Maluku, dan Kalimantan. Di pulau tersebut, jumlah desa tertinggal cukup tinggi. Di Papua, jumlah desa tertinggal mencapai 87,12 persen, di Papua Barat sebanyak 82,03 persen.

Selain di Papua, desa tertinggal banyak juga terdapat di Maluku. Prosentase jumlah desa tertinggal di daerah tersebut mencapai 46 persen dari total desa, Maluku Utara 37 persen. Desa tertinggal yang banyak juga terdapat di Kalimantan Utara yang prosentasenya mencapai 61 persen.


"Tentunya ini perlu dipikirkan. Masalah besar di sana lebih ke masalah geografis di Papua misalnya sangat sulit untuk dicapai. Kalau tidak ada keberpihakan, bagaimana kita mungkin harapkan saudara-saudara kita di wilayah timur bisa mengejar ketertinggalan," katanya.

(Antara/agt)