Cadev Naik, Rupiah Menguat Tinggalkan Rp14.500 per Dolar AS

CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 16:55 WIB
Cadev Naik, Rupiah Menguat Tinggalkan Rp14.500 per Dolar AS Ilustrasi nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.480 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (7/12) sore. Posisi ini menguat 40 poin atau 0,28 persen dibanding Kamis (6/12) kemarin yang di Rp14.520 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.539 per dolar AS atau melemah dari kemarin di posisi Rp14.507 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah memimpin penguatan mata uang bersama rupee India yang turut menguat 0,25 persen, peso Filipina 0,12 persen, won Korea Selatan 0,1 persen, baht Thailand 0,08 persen, dan renminbi China 0,01 persen.


Namun, beberapa mata uang Asia justru bersandar di zona merah. Dolar Singapura melemah 0,03 persen, dolar Hong Kong minus 0,04 persen, ringgit Malaysia minus 0,05 persen, dan yen Jepang minus 0,12 persen.


Sebaliknya, mata uang utama negara maju justru kompak melemah dari dolar AS. Poundsterling
Inggris melemah 0,31 persen, dolar Australia minus 0,16 persen, dolar Kanada minus 0,09 persen, franc Swiss minus 0,06 persen, euro Eropa minus 0,02 persen, dan rubel Rusia minus 0,01 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah berhasil menguat hari ini karena ada sentimen pendukung dari dalam dan luar negeri. Dari luar negeri, sentimen positif datang dari rilis data ketenagakerjaan AS versi ADP yang di bawah ekspektasi pasar.

Dalam rilisnya, penciptaan lapangan kerja di Negeri Paman Sam sebanyak 179 ribu pada November 2018 di bawah ekspektasi pasar yang196 ribu. 
"Ini menambah indikasi dan prediksi pasar bahwa pertumbuhan ekonomi AS mulai melambat, sehingga semakin menambah kekhawatiran pasar," ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Jumat (7/12).


Selain itu, imbal hasil (yield) surat utang AS, US Treasury Bond bertenor 10 tahun juga kembali menurun. Bahkan, hingga menyentuh posisi terendah sejak Agustus 2018.

Tak ketinggalan, spekulasi pasar bahwa kenaikan tingkat bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve yang terakhir kali akan terjadi di Desember ini. Artinya, pasar memprediksi The Fed tidak akan melanjutkan kenaikan bunga acuannya pada tahun depan.

Sementara dari dalam negeri, sentimen penguatan rupiah datang dari rilis cadangan devisa yang meningkat US$2 miliar menjadi US$117,2 miliar per November 2018. "Ini mendukung penguatan rupiah hari ini," katanya.

(uli/agt)