Sandiaga Sebut Rupiah Melemah karena Pemerintah Kurang Tegas

CNN Indonesia | Rabu, 12/12/2018 21:03 WIB
Sandiaga Sebut Rupiah Melemah karena Pemerintah Kurang Tegas Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno memandang nilai tukar rupiah masih lemah terhadap dolar AS karena upaya pemerintah kurang tegas. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --
Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno memandang nilai tukar rupiah masih lemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) karena upaya menstabilkan kurs mata uang Garuda yang dilakukan pemerintah kurang tegas.

Menurut Sandiaga, pemerintah memang sudah melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan kurs rupiah. Misalnya, dengan berkomitmen membenahi pembengkakan defisit transaksi berjalan hingga mengurangi impor agar neraca pembayaran meningkat. Namun, upaya itu masih belum dilakukan dengan optimal.

"Saya yakin pemerintah sudah coba dengan luar biasa, tapi kami yakin di bawah Prabowo-Sandi dengan kepemimpinan yang kuat dan tegas, eksekusi daripada reformasi struktural akan bisa dilakukan dengan lebih pasti dan jelas," ujar Sandi di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Rabu (12/12).



Kendati begitu, Sandiaga mengaku bila nanti memenangkan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019, langkah yang akan diambil kubunya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah memang tidak jauh berbeda dengan kebijakan pemerintah saat ini.

Ia bilang, kepemimpinan Prabowo-Sandi akan berfokus membenahi masalah defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan.

"Masalah defisit ada dua pilar, pertama, bagaimana melakukan penghematan, tapi tidak secara drastis. Kedua, kami fokus ke pengurangan impor untuk hal-hal yang bisa kami tunda dan penguatan ekspor dengan kebijakan insentif," terangnya.


Namun, ia tak ingin menjanjikan urusan rupiah serta dua defisit ini bisa selesai dalam waktu sekejap. Perhitungan Sandi, setidaknya butuh waktu tiga tahun untuk memulihkan masalah defisit dan rupiah.

Meski butuh waktu, namun ia memastikan langkah-langkah struktural dan tegas itu bakal secepat mungkin dilakukan agar dampaknya tak sampai membebani daya beli masyarakat dan kalangan usaha.

"Soalnya mereka jadi susah untuk pricing produk karena banyak produk menggunakan dolar AS. Kalau ini naik turun terus, bisa membebani masyarakat jadi kehilangan daya beli," pungkasnya.


Saat ini, rupiah berada di kisaran Rp14.500 per dolar AS di pasar spot. Rupiah sempat menguat dari kisaran Rp15.200 per dolar AS ke Rp14.200 per dolar AS dalam sebulan terakhir.
(uli/lav)