Listrik, Kado Natal Warga Desa Terpencil di Gunung Jayawijaya

CNN Indonesia | Sabtu, 15/12/2018 09:55 WIB
Listrik, Kado Natal Warga Desa Terpencil di Gunung Jayawijaya Warga Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai (CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Papua, CNN Indonesia -- Senja perlahan berganti malam di sisi barat pegunungan Jayawijaya, Papua. Udara dingin kian menusuk seiring kabut yang perlahan menuruni lereng-lereng pegunungan. Namun, senyum merekah masih mengembang dari wajah Muses Tebai.

Pemandangan malam yang dulu gelap gulita, kini berganti menjadi lautan cahaya putih yang berasal dari lampu hemat energi.

"Dari dulu memang wilayah kami tak pernah ada lampu. Listrik hanya menjangkau sebagian saja, utamanya di gedung publik. Namun kini, rumah-rumah kami sudah terang benderang," ungkap Muses kepada CNNIndonesia.com.


Muses merupakan Kepala Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua. Distriknya terletak di sisi timur Kabupaten Dogiyai dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Paniai dan Kabupaten Timika, 1.500 meter di atas permukaan laut.

Terletak di pegunungan, distrik ini jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Dibutuhkan waktu tempuh lima jam perjalanan darat dari kota terdekat, Nabire dengan kondisi jalan yang terjal dan berkelok-kelok. Tak heran jika kehidupan di Distrik Kamu memang serba apa adanya, termasuk listrik.
Pemandangan Distrik Kamu, Kabupaten DogiyaiPemandangan Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai. (CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Ibarat tertimpa durian runtuh, Distrik Kamu akhirnya mendapatkan bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Desember ini. Bantuan itu tak disia-siakan olehnya. Ia langsung menyebar LTSHE di empat desa yang ada di Distrik Kamu, yakni desa Bukapa, Idakotu, Ekemenida, dan Dikiyouwa.

"Dengan bantuan ini tentu kami memiliki penerangan. Dan sebagai kepala distrik, memang sebelumnya kami sering sekali meminta uluran tangan pemerintah pusat untuk membantu kami, dibantu Pemerintah Daerah Kabupaten Dogiyai. Akhirnya, kami bisa dapatkan penerangan di penghujung tahun," jelas dia.

Bukan perkara mudah untuk menghadirkan setrum di distrik yang memiliki udara sejuk ini. Ia mengaku sudah sering meminta tolong kepada PT PLN (Persero) untuk membangun jaringan ke Distrik Kamu. Terakhir, permohonan disampaikan kala PLN tengah mendirikan tiang-tiang listrik di wilayah sekitar jalan Trans Papua.

Ketika itu, PLN sudah berjanji untuk menyambung distriknya dengan listrik sesegera mungkin. Namun, wilayah Kabupaten Dogiyai ini cukup luas, sehingga PLN memprioritaskan penyambungan listrik di sekitar Trans Papua terlebih dulu. Listrik ke kampung-kampung direncanakan PLN sebagai penyambungan tahap kedua.

Penyambungan listrik dari PLN sebenarnya bisa saja dipaksakan ke desa-desa di Distrik Kamu. Tetapi, itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Adapun, penyambungan listrik satu rumah bisa dibanderol Rp3 juta hingga Rp6 juta tergantung kapasitasnya.


Namun, uang sebanyak itu tak dimiliki oleh rata-rata penduduk Distrik Kamu. Ia mengatakan, saat ini Distrik Kamu berpenduduk 13 ribu jiwa dan sebagian besar bekerja dengan membuka ladang dan beternak. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, terlebih untuk membayar sambungan listrik.

"Tapi kami juga tak bisa menyalahkan PLN, karena wilayah yang harus diterangi PLN juga cukup luas sehingga tentu mereka bertahap kerjanya. Kami pun tak yakin PLN akan masuk di tahun ini, sehingga bantuan lampu ini sangat bermanfaat bagi kami," imbuh Muses.

Hadirnya lampu ini diharapkan bisa meningkatkan taraf hidup Distrik Kamu. Anak-anak kini bisa belajar dan membaca buku malam hari. Bahkan, orang tuanya juga bisa membaca alkitab di malam hari tanpa harus berjibaku mencari penerangan.

Namun, ia berharap uluran tangan pemerintah ini tak berhenti begitu saja. Masih banyak desa di Distrik Kamu yang belum terjamah listrik. Apalagi, dari 12 desa yang berada di Distrik Kamu, baru empat desa saja yang menerima lampu tenaga surya ini.

"Dan kami sampaikan kepada Presiden Joko Widodo untuk memperhatikan Kabupaten Dogiyai secara umum. Karena pada saat pemilihan umum 2014 kemarin, 100 persen penduduk Dogiyai memilihnya sebagai presiden, tapi bantuannya kami rasa masih minim," terang dia.


Sekretaris Jenderal Direktorat Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Wawan Supriatna mengatakan, pembagian LTSHE di daerah terpencil ini merupakan agenda wajib Kementerian ESDM sejak 2017 silam.

Program ini disebutnya sebagai amanat langsung dari Jokowi agar energi bisa menelisik ke celah-celah tersempit tanah air. Sebab, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 silam, sebanyak 2.500 desa atau 256.114 rumah terpantau gelap gulita. Amanat itu pun dipertegas melalui Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2017.

Sejak dimulai setahun lalu, distribusinya dilakukan secara perlahan. Pada 2017 silam, pembagian LTSHE hanya dilaksanakan di lima provinsi, yakni Maluku, Nusa Tenggara Barat, Riau, Papua, dan Papua Barat dengan jumlah lampu terpasang 79.556 unit dan menyentuh di 1.208 desa.

Sementara di tahun ini, Kementerian ESDM akan menyebar 173.208 unit LTSHE di 16 provinsi dengan anggaran Rp600 miliar. Kebetulan, Distrik Kamu masuk ke dalam daftar penerima tahun ini dan mendapatkan jatah 1.630 unit LTSHE.


Selain di Distrik Kamu, Kementerian ESDM juga telah membagikan LTSHE di distrik lainnya di Kabupaten Dogiyai, yakni Distrik Mapia, Mapia Barat, dan Sukikai Selatan.

"Indonesia ini wilayahnya cukup luas sekali dan belum sepenuhnya masyarakat mendapatkan pelayanan energi. Tapi pemerintah tentu harus memberikan layanan, dan yang bisa kami lakukan adalah melalui lampu tenaga surya hemat energi," kata dia.

Lampu tenaga surya ini dijaminkan oleh Kementerian ESDM selama tiga tahun. Artinya, jika lampu-lampu ini nantinya perlu diperbaiki, maka ada perwakilan Kementerian ESDM yang siap untuk dihubungi. Hanya saja, Wawan berharap agar masyarakat benar-benar bisa merawat bantuan pemerintah ini. Jangan sampai, lampu-lampu itu gampang rusak.

Partisipasi warga sangat diperlukan mengingat langkah pemerintah selanjutnya bukan hanya sekadar menerangkan rumah, namun juga menyediakan tenaga setrum yang efisien agar alat-alat elektronik bisa dimanfaatkan. Namun, sembari menunggu hal itu terwujud, Kementerian ESDM masih akan membagikan 98.481 unit LTSHE yang menjangkau 27 provinsi di tahun depan.


"Kami tentu akan cari solusi agar kebutuhan energi masyarakat bisa dipenuhi. Jika masyarakat terus mendukung, pemerintah tentu bisa menyediakan energi yang lebih baik setelah pembagian LTSHE," jelasnya.

Energi memang masih jadi barang mewah di tanah Papua. Sesuatu yang selama ini dianggap mustahil terjadi, kini bisa dirasakan langsung oleh masyarakat yang hidup seadanya.

Saking gembiranya dengan hadirnya lampu tenaga surya, Muses berkisah bahwa warga Desa Bukapa sampai menyelenggarakan pesta jamuan bersama sebagai simbol rasa syukur. Hal itu, lanjut Muses, merupakan bukti bahwa energi adalah hal yang selama ini memang dinantikan di Papua, khususnya di Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai.

"Hadirnya lampu ini juga bertepatan dengan bulan Desember. Ini adalah kado Natal paling indah yang pernah kami terima dalam beberapa waktu terakhir. Tuhan mendengar doa kami, dan kami berharap Tuhan tetap memberkati Distrik Kamu," pungkas Muses. (glh/agi)