Tekan Impor Migas, Jonan Ajak Warga Pakai Kendaraan Listrik

CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 00:03 WIB
Tekan Impor Migas, Jonan Ajak Warga Pakai Kendaraan Listrik Menteri ESDM mendorong pengembangan dan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, karena dapat membantu pemerintah menekan impor bahan bakar minyak (BBM). (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mendorong pengembangan dan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, karena dapat membantu pemerintah menekan impor bahan bakar minyak (BBM).

"Kalau mau mengurangi impor (minyak mentah) ke depannya harus impor listrik," ujar Jonan saat menghadiri International Business Summit 2018 IKA ITS di Hotel Indonesia Kempinski, Rabu (28/11).

Dengan penggunaan kendaraan listrik yang lebih masif, pemerintah bisa mensubstitusi bahan bakar minyak ke listrik. Terlebih, Indonesia memiliki banyak sumber energi listrik, mulai dari batu bara hingga energi baru terbarukan seperti panas bumi, air, dan bayu.



Lebih lanjut, Jonan juga mendorong produsen untuk berani memproduksi kendaraan listrik secara massal. Dengan demikian, biaya produksi per unit akan lebih murah dan lebih kompetitif.

"Kalau harganya masih Rp5 juta, Rp10 juta lebih mahal kendaraan yang menggunakan BBM, wah berat. Walaupun 5-10 tahun lagi mungkin bisa diterima oleh generasi muda," ujarnya.

Jonan menyebut kebutuhan konsumsi minyak dalam negeri lebih besar dari produksi. Sebagai gambaran, konsumsi minyak mentah termasuk produk bahan bakar ada di kisaran 1,3 juta hingga 1,4 juta barel per hari (bph). Namun, produksi minyak mentah dalam negeri hanya berkisar 775 ribu bph.


"Jadi,kira-kira impor 600 ribu bph. Kalau dibiarkan mungkin impornya tidak lagi 600 ribu barel, tetapi bisa 1 juta barel," ujarnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor migas Oktober 2018 membengkak 31,78 persen secara tahunan menjadi US$2,9 miliar. Akibatnya, defisit migas membengkak hampir dua kali lipat dari US$718 juta pada Oktober 2017 menjadi US$1,43 miliar.

(sfr/lav)