IHSG dan Rupiah Jatuh Tersandung Defisit Neraca Dagang

CNN Indonesia | Senin, 17/12/2018 14:38 WIB
IHSG dan Rupiah Jatuh Tersandung Defisit Neraca Dagang IHSG dan nilai tukar rupiah kompak melemah setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan mengalami defisit tajam hingga US$2 miliar. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak melemah setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan mengalami defisit tajam hingga US$2 miliar.

IHSG melorot hingga 1,03 persen atau 63,5 poin ke level 6.106 pada perdagangan Senin (17/12) siang ini. Indeks saham dibuka di level 6.163 pada pagi ini, turun tipis dari angka penutupan perdagangan akhir pekan lalu 6.163. Hari ini, IHSG ditransaksikan pada rentang 6.099-6.174.

Sepanjang 2018, imbal hasil (return) indeks saham mengalami minus 3,9 persen, meski return dalam perhitungan tahunan meningkat 2,09 persen.



Senada, nilai tukar rupiah juga melemah 0,21 persen atau 30,2 poin pada siang ini, ke level Rp14.611 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda dibuka di level Rp14.602 pada Senin (17/12) pagi, melemah dari level perdagangan akhir pekan Rp14.581.

Sebelumnya, sejumlah analis memperkirakan neraca perdagangan November 2018 kembali defisit dan membuat indeks saham dan rupiah melemah sesaat.

Kepala Riset Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe memprediksi neraca perdagangan November 2018 kembali defisit. Penyebabnya tidak lain karena ketergantungan Indonesia terhadap barang impor yang masih cukup tinggi.


"Neraca perdagangan masih akan defisit, jadi pada awal pekan IHSG melemah dulu nanti," ucap Kiswoyo kepada CNNIndonesia.com.

Siang ini, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 mengalami defisit sebesar US$2,05 miliar. Angka defisit ini meningkat dibandingkan Oktober 2018 mencapai US$1,82 miliar.

Sementara itu, secara kumulatif Januari-November 2018, defisit perdagangan telah mencapai US$7,52 miliar. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan Januari-November 2017 yang masih surplus US$12,02 miliar.


Defisit terjadi karena nilai ekspor sebesar US$14,83 miliar atau turun 6,69 persen dibandingkan Oktober 2018. Sedangkan impor mencapai US$16,88 miliar atau turun 4,47persen dari bulan sebelumnya.

Dari sisi ekspor, penurunan ekspor terjadi pada sektor minyak dan gas (migas) serta non migas. Ekspor migas tercatat turun 10,75 persen menjadi US$1,37 miiar dan non migas turun 6,25 persen menjadi US$13,46 miliar. (lav/bir)