Permintaan Batu Bara Diramal 'Mandek' Sampai Tahun 2023

CNN Indonesia | Selasa, 18/12/2018 17:22 WIB
Permintaan Batu Bara Diramal 'Mandek' Sampai Tahun 2023 Ilustrasi batu bara. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara global akan memasuki periode stagnasi hingga 2023. Pada periode tersebut, permintaan akan tumbuh di sejumlah negara tetapi akan turun di negara lain.

Direktur Pasar dan Keamanan Energi IEA Keisuke Sadamori mengungkapkan tahun depan permintaan batu bara secara umum masih akan tumbuh seperti tahun lalu yang hanya sebesar satu persen. Kondisi itu diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2023.

Permintaan batu bara tumbuh kuat di India, Korea, dan Asia Tenggara (Indonesia, Vietnam, Malaysia, Filipina). Batu bara masih menjadi pilihan karena tersedia dengan harga yang relatif murah dibandingkan sumber energi primer lain, terutama untuk ketenagalistrikan.


Khusus untuk wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pertumbuhan permintaan akan berkisar lima persen per tahun hingga 2023.


"Meningkatnya penggunaan batu bara untuk ketenagalistrikan akan mendorong konsumsi di beberapa negara di Asia Tenggara," ujar Sadamori dalam peluncuran laporan IEA Coal Forecast to 2023 di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, Selasa (18/12).

Di sisi lain, permintaan batu bara di Eropa dan Amerika Utara menurun karena kebijakan terkait kualitas udara dan iklim yang memicu peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan. Secara global, IEA memperkirakan kontribusi batu bara pada bauran energi global bakal menurun dari 27 persen pada 2027 menjadi 23 persen pada 2023.

"Menurunnya biaya energi terbarukan dan banyaknya pasokan gas alam memberikan tekanan pada batu bara," ujar Sadamor.

Kondisi itu juga terlihat di China yang merupakan konsumen dari hampir separuh produksi batu bara dunia. Kebijakan untuk meningkatkan kualitas udara membatasi permintaan batu bara China dalam lima tahun ke depan yang diperkirakan bakal menurun sekitar tiga persen.


Di tempat yang sama, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Sumber Daya Mineral, Batu bara dan Listrik Boy Garibaldi Thohir menilai proyeksi bisnis batu bara masih positif tahun depan. Hal itu didukung oleh meningkatnya permintaan dari India, dan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Positifnya permintaan batu bara di Indonesia tak lepas dari upaya percepatan pembangunan infrastruktur, termasuk pembangunan pembangkit listrik. Mengingat harga batu bara yang relatif murah dan cadangannya banyak tersedia di Indonesia, emas hitam masih menjadi sumber energi primer andalan.

"Indonesia bukan hanya butuh listrik yang murah, tapi juga andal. Pemanfaatan batubara dalam negeri,atauPLTU merupakan tulang punggung pembangunan ekonomi bangsa," ujarnya. (sfr/agt)