Di kawasan Asia, rupiah menjadi mata uang yang paling melemah, diikuti won Korea Selatan dan peso Filipina yang melemah masing-masing 0,4 persen dan 0,3 persen.
Selanjutnya, ringgit Malaysia turut melemah 0,1 persen, yen Jepang minus 0,06 persen, dolar Hong Kong minus 0,05 persen, dan baht Thailand minus 0,04 persen. Hanya dolar Singapura yang menguat tipis 0,01 persen dari dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbanding terbalik, mayoritas mata uang utama negara maju justru menguat terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Dolar Australia menguat 0,12 persen, rubel Rusia 0,06 persen, poundsterling Inggris 0,05 persen, dan euro Eropa 0,01 persen. Hanya franc Swiss dan dolar Kanada yang melemah, masing-masing minus 0,05 persen.
Analis CSA Research Institute Reza Priyambada melihat pergerakan rupiah dan sejumlah mata uang dipengaruhi oleh pengumuman hasil rapat bank sentral AS, Federal Reserve.
Kenaikan bunga acuan pada Desember 2018 sejatinya memang sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, sinyal kenaikan tahun depan tampaknya berhasil menahan potensi penguatan mata uang.
"Padahal, rupiah sudah sempat berhasil menembus batas area middle bollinger band yang membuka peluang penguatan kembali secara tren," uujarnya, Kamis (20/12).
Lebih lanjut, dalam pernyataannya, The Fed juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS sbesar 2,3 persen dari sebelumnya 2,5 persen. Namun, prospek inflasi masih sesuai target 2 persen, sehingga masih ada ruang bagi kenaikan bunga acuan pada tahun depan.
Sementara itu, respons kenaikan bunga acuan The Fed baru akan diberikan oleh Bank Indonesia pada siang ini dalam pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan. Namun, pasar berekspektasi BI tidak akan mengerek bunga acuan karena sudah lebih dulu menaikkan pada bulan lalu. (uli/lav)