The Fed Kerek Bunga, Mata Uang Asia Rontok dari Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 20/12/2018 09:37 WIB
The Fed Kerek Bunga, Mata Uang Asia Rontok dari Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.505 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis pagi (20/12). Posisi ini melemah 66 poin atau 0,46 persen dari Rabu sore (19/12) di Rp14.439 per dolar AS, dipicu kenaikan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve.

Di kawasan Asia, rupiah menjadi mata uang yang paling melemah, diikuti won Korea Selatan dan peso Filipina yang melemah masing-masing 0,4 persen dan 0,3 persen.

Selanjutnya, ringgit Malaysia turut melemah 0,1 persen, yen Jepang minus 0,06 persen, dolar Hong Kong minus 0,05 persen, dan baht Thailand minus 0,04 persen. Hanya dolar Singapura yang menguat tipis 0,01 persen dari dolar AS.



Berbanding terbalik, mayoritas mata uang utama negara maju justru menguat terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Dolar Australia menguat 0,12 persen, rubel Rusia 0,06 persen, poundsterling Inggris 0,05 persen, dan euro Eropa 0,01 persen. Hanya franc Swiss dan dolar Kanada yang melemah, masing-masing minus 0,05 persen.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada melihat pergerakan rupiah dan sejumlah mata uang dipengaruhi oleh pengumuman hasil rapat bank sentral AS, Federal Reserve.

The Fed kembali mengerek tingkat bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2,25-2,5 persen pada Kamis dini hari (20/12) waktu Indonesia. Sementara pada tahun depan, The Fed memberi sinyal akan menaikkan bunga acuan sebanyak dua kali lagi.


Kenaikan bunga acuan pada Desember 2018 sejatinya memang sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, sinyal kenaikan tahun depan tampaknya berhasil menahan potensi penguatan mata uang.

"Padahal, rupiah sudah sempat berhasil menembus batas area middle bollinger band yang membuka peluang penguatan kembali secara tren," uujarnya, Kamis (20/12).

Lebih lanjut, dalam pernyataannya, The Fed juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS sbesar 2,3 persen dari sebelumnya 2,5 persen. Namun, prospek inflasi masih sesuai target 2 persen, sehingga masih ada ruang bagi kenaikan bunga acuan pada tahun depan.


Sementara itu, respons kenaikan bunga acuan The Fed baru akan diberikan oleh Bank Indonesia pada siang ini dalam pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan. Namun, pasar berekspektasi BI tidak akan mengerek bunga acuan karena sudah lebih dulu menaikkan pada bulan lalu. (uli/lav)