LIPI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2019 Sesuai Target APBN

CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 05:00 WIB
LIPI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2019 Sesuai Target APBN Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan akan berada di rentang 5,2-5,4 persen. Proyeksi itu tak jauh berbeda dengan target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2019 sebesar 5,3 persen.

Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Agus Eko Nugroho mengatakan Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun depan akan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi. Berkaca dari pengalaman Pilpres pada 2009 dan 2014 lalu, belanja pemerintah selalu meningkat saat pesta demokrasi berlangsung.

"Artinya, sebenarnya, dari sisi belanja pemerintah, Pilpres dan Pemilu memiliki efek yang positif. Itu yang menggerakkan produksi," ujarnya di Hotel Century, Kamis (20/12).

Target pertumbuhan ekonomi itu dapat direalisasikan, dengan catatan seluruh pemangku kepentingan mendukung dan para politisi bisa menjaga tensi politik agar tidak memanas selama Pilpres dan Pemilu berlangsung. Sehingga, investor tidak berlarut-larut bersikap wait and see.

Dari sisi eksternal, Agus meyakini tren ekonomi global menuju perbaikan. Sebab, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China diyakini mereda. Kondisi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan konsumsi global.

Yang menjadi tantangan, sebetulnya, meningkatkan konsumsi rumah tangga. Pasalnya, konsumsi rumah tangga berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, yakni sekitar 50 persen.

Agus menyatakan pemerintah dapat mendorong konsumsi domestik lewat pertumbuhan konsumsi kelas menengah.

Selain itu, pemerintah juga memiliki pekerjaan rumah untuk memperbesar nilai investasi yang menjadi komponen penyumbang terbesar kedua dalam pertumbuhan ekonomi.

Terakhir, pemerintah harus mampu meningkatkan ekspor berbasis industri manufaktur. Alasannya, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan akibat tingginya impor minyak dan gas (migas).

Pada November ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan defisit US$2,05 miliar. Secara tahun berjalan, defisit perdagangan mencapai US$7,52 miliar pada Januari-November 2018.

Dari sisi inflasi, LIPI meramalkan tingkat inflasi tahun depan akan berada di kisaran 3,5 persen-3,9 persen. Prediksi itu lebih tinggi dari target inflasi yang dipatok pemerintah dalam APBN 2019 sebesar 3,5 persen.

"Tantanganya adalah administered price (harga yang diatur pemerintah) dengan cara menjaga stabilitas harga Bahan Bakar Minyak (BBM)," terang Agus.

BPS mencatat inflasi November 2018 sebesar 0,27 persen secara bulanan. Inflasi ini menurun tipis dari bulan sebelumnya sebesar 0,28 persen. Sementara secara tahun berjalan inflasi sebesar 2,5 persen dan secara tahunan mencapai 3,23 persen.


(ulf/bir)