Harga Minyak Dunia Anjlok Dipicu Kekhawatiran Pasar

CNN Indonesia | Rabu, 26/12/2018 07:37 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok Dipicu Kekhawatiran Pasar Ilustrasi. (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia merosot lebih dari enam persen ke level terendah selama lebih dari setahun terakhir pada perdagangan awal pekan ini. Pelemahan harga dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi global.

Dilansir dari Reuters, Rabu (26/12), harga minyak mentah berjangka Brent pada Senin (24/12) lalu merosot US$3,35 atau 6,2 persen menjadi US$50,47 per barel.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$3,06 atau 6,7 persen menjadi US$42,53 per barel.

Harga acuan global Brent dan WTI tertekan hingga ke level terendah sejak 2017 selama sesi perdagangan. Hal itu membuat kedua harga pada kuartal keempat ini diperkirakan merosot sekitar 40 persen.


Pekan lalu, harga Brent merosot 11 persen dan menyentuh level terendah sejak September 2017. Sementara, harga WTI turun ke level terendah sejak 2017.

Pada awal pekan ini, harga WTI tertekan hingga ke level terendah sejak 22 Juni 2017. Pelemahan dipicu oleh eskalasi perang dagang antara AS-China yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global dan permintaan minyak mentah. Sementara, harga Brent anjlok ke level terendahnya sejak 17 Agustus 2017.

Analis Price Futures Group Phil Flynn menilai terjerembabnya harga minyak terjadi karena pelaku pasar tengah memasukkan faktor perlambatan ekonomi.

"Apa yang terjadi pada pasar saham menimbulkan ketakutan akan perekonomian yang menuju perlambatan dan karenanya akan 'membunuh' permintaan minyak di masa mendatang," ujar Flynn di Chicago.


Menurut Flynn, anjloknya harga minyak di kuartal keempat kemungkinan bakal membuat produsen menahan produksinya.

Pasar aset telah mendapatkan tekanan seiring mulai berhentinya operasional pemerintah AS yang dimulai sejak Sabtu tengah malam lalu. Hal itu membuat kekhawatiran terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi.

Investor telah mengalihkan investasinya pada aset aman (safe-haven), seperti emas dan surat utang pemerintah yang akhirnya menekan minyak mentah dan saham.

Pada awal pekan ini, pasar saham global merosot untuk kedelapan kalinya. Hal itu terjadi menyusul sikap acuh investor terhadap kebijakan Kementerian Keuangan AS yang mendorong kembali kepercayaan diri pasar terhadap perekonomian.


Selain itu, kritik Presiden AS Donald Trump yang menyebut bank sentral AS, The Federal Reserve, sebagai satu-satunya masalah dalam perekonomian Negeri Paman Sam juga menekan pasar global.

Gambaran makroekonomi dan dampaknya terhadap terhadap permintaan minyak terus menekan harga. Pasar modal global sejauh ini telah merosot hampir 9,5 persen pada Desember, penurunan bulanan terbesar sejak September 2011 saat terjadi krisis utang di Eropa.

Tahun ini, sengketa dagang AS-China dan proyeksi kenaikan cepat suku bunga AS telah menekan pasar saham global turun dari level tertinggi tahun ini. Hal itu juga memantik kekhawatiran akan permintaan minyak yang tidak cukup untuk menyerap kelebihan produksi.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, bulan ini telah menyepakati untuk memangkas produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) mulai Januari.


Apabila kebijakan itu gagal untuk menyeimbangkan pasar, Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail al-Mazrouei mengatakan OPEC dan sekutunya akan menggelar rapat luar biasa.

"Para menteri perminyakaan telah mengumandangkan mantra 'harga stabil apapun caranya'," tandas Kepala Perdagangan Oanda untuk Asia Pasifik Stephen Innes di Singapura.


(sfr/bir)