Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyebut program ini juga ditujukan untuk pengembangan potensi pondok pesantren yang sebagian besar memiliki potensi usaha utama di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan.
Hal itu diungkapkannya saat peluncuran program di Pondok Pesantren Pemberdayaan Umat Yayasan Jam'iatul Hidayah, Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/12). Program itu sendiri diinisiasi oleh Institut Pertanian Bogor (IPB), Medco Foundation, serta Kemenko Perekonomian, dan didukung oleh bank nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaksana Tugas (Plt) Rektor IPB Agus Purwito mengatakan sektor pertanian menghadapi beberapa tantangan di tengah banyaknya peluang yang dimiliki bangsa. Sebut saja, bonus demografi, besarnya angkatan kerja, revolusi industri 4.0, hingga potensi kekuatan ekonomi dunia.
Belum lagi, kesejahteraan petani yang jauh dari cukup. Bahkan, petani disebut sebagai pekerjaan dengan pendapatan terendah. Tantangan lainnya, rendahnya minat pemuda terhadap sektor pertanian.
"Salah satu tujuannya adalah menghasilkan lulusan techno-socioprenuer unggul yang diharapkan mampu memimpin dan menggerakkan ekonomi Indonesia," katanya, dilansir Antara.
Pendiri Medco Foundation Arifin Panigoro menyebut pemilihan Pondok Pesantren Jam'iyyatul Hidayah sebagai tempat peluncuran program lantaran kelengkapan dan kesiapannya melaksanakan program. Ditambah lagi, sarana dan prasarana yang mendukung.
"Di sini lengkap, ada pusat pelatihan santripreneurnya, lahannya luas, ada kolam, dan ada peternakannya," imbuh dia.
Program santripreneur dan petani muda ini juga mendukung program pemerintah Provinsi Jawa Barat, yakni 'one village one company' dan one pesantren one produk'.
"Pemprov Jabar mendorong santri sebagai agen perubahan dalam memajukan setor pertanian," tandas Sekda Jawa Barat Iwa Karniwa. (bir)