Efek Trump, Rupiah Malah Melempem ke Rp14.577 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 26/12/2018 16:58 WIB
Efek Trump, Rupiah Malah Melempem ke Rp14.577 per Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.577 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu sore (26/12). Posisi ini melemah 26 poin atau 0,17 persen dari level akhir pekan lalu.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.602 per dolar AS atau melemah dari akhir pekan lalu, Jumat (21/12) di Rp14.480 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama yen Jepang yang minus 0,17 persen, dan peso Filipina minus 0,02 persen.



Di sisi lain, mayoritas mata uang Asia lainnya justru berlabuh di zona hijau. Ringgit Malaysia menguat 0,18 persen, dolar Singapura 0,12 persen, baht Thailand 0,09 persen, rupee India 0,06 persen, renminbi China 0,04 persen, won Korea Selatan 0,04 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen.

Sebaliknya, mayoritas mata uang utama negara maju justru terjungkal. Rubel Rusia melemah 0,72 persen, franc Swiss minus 0,17 persen, dolar Kanada minus 0,03 persen, dan euro Eropa minus 0,02 persen. Hanya dolar Australia dan poundsterling Inggris yang menguat, masing-masing 0,22 persen dan 0,11 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena poundsterling Inggris berhasil menguat, memanfaatkan pelemahan dolar AS.


Sementara itu, pelemahan dolar AS terjadi karena pasar kian pesimis dengan prospek ekonomi Negeri Paman Sam, setelah Presiden AS Donald Trump resmi menutup pemerintahan (shut down) lebih awal sejak Sabtu lalu (22/12). Hal ini dilakukan karena Kongres AS menunda kesepakatan persetujuan terkait anggaran untuk membangun tembok di perbatasan AS-Meksiko.

"Shut down ini menambah kekhawatiran akan dampak ke perekonomian Amerika, setelah sebelumnya ada kekhawatiran akan perang dagang," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/12).

Selain itu, pelemahan dolar AS juga terjadi karena sebelumnya Trump kembali bersitegang dengan bank sentral AS, Federal Reserve. Bahkan, Trump sempat berencana ingin memecat Gubernur bank sentral AS The Fed Jerome Powell.


Menurut Trump, kenaikan tingkat bunga acuan The Fed untuk keempat kalinya pada Desember 3028 akan mengacaukan kondisi pasar keuangan AS.

Meski dolar AS melemah, rupiah tetap tidak mampu menguat karena dari sisi domestik karena tidak ada sentimen baru yang bisa menopang mata uang Garuda. Penyebabnya, pasar baru aktif setelah libur panjang Natal 2018.

Untuk pekan ini, Dini memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp14.470-14.660 per dolar AS. Hal ini karena tidak ada sentimen dari rilis data ekonomi, baik dari luar maupun dalam negeri.

(uli/lav)