Rupiah 'Tak Bergairah' Sambut Libur Natal, Melemah 80 Poin

CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 16:51 WIB
Rupiah 'Tak Bergairah' Sambut Libur Natal, Melemah 80 Poin Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.553 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat (21/12) sore. Posisi ini melemah 80 poin atau 0,55 persen dari Kamis sore (20/12) di Rp14.472 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.480 per dolar AS atau menguat dari kemarin di Rp14.499 per dolar AS.

Di kawasan Asia, pelemahan mata uang terdalam dirasakan oleh rupee India yang melemah 0,78 persen. Setelah itu renminbi China melemah 0,27 persen, ringgit Malaysia minus 0,07 persen, dan baht Thailand minus 0,07 persen.


Beberapa mata uang Asia lainnya berhasil menguat dari dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,42 persen, peso Filipina 0,36 persen, yen Jepang 0,22 persen, dolar Singapura 0,13 persen, dan dolar Hong Kong 0,02 persen.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju yang bergerak variasi. Dolar Australia dan dolar Kanada tertahan di zona merah dengan melemah 0,11 persen dan 0,04 persen.

Sedangkan euro Eropa menguat 0,02 persen, franc Swiss 0,09 persen, poundsterling Inggris 0,22 persen, dan rubel Rusia 0,39 persen.


Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pergerakan rupiah hari ini masih dipengaruhi oleh sentimen dari bank sentral AS, The Federal Reserve. Namun, pasar kini lebih terpengaruh pada proyeksi perlambatan ekonomi ke depan.

Dalam proyeksinya, The Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS sbesar 2,3 persen dari sebelumnya 2,5 persen. Namun, prospek inflasi masih sesuai target 2 persen, sehingga masih ada ruang bagi kenaikan bunga acuan pada tahun depan.

"Kekhawatiran itu turut berimbas ke bursa saham dan mata uang, sehingga pelemahan rupiah terjadi lagi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/12).

Selain itu, ada sentimen musiman berupa libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019. Hal ini membuat kebutuhan dolar AS di dalam negeri meningkat, sedangkan rupiah tidak. 

Sedangkan dari sisi domestik, Dini melihat tidak ada sentimen baru yang berhasil menopang rupiah, termasuk tahap akhir penyelesaian pembelian saham PT Freeport Indonesia oleh pemerintah melalui PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum.

"Mungkin baru pengaruh kalau nanti saham Freeport sudah benar-benar punya Indonesia. Lalu, data perekonomian nasional dan Papua meningkat," jelasnya.


(uli/bir)