Bos Bulog Buwas: Insyaallah Tak Ada Impor di 2019

CNN Indonesia | Kamis, 27/12/2018 18:14 WIB
Bos Bulog Buwas: Insyaallah Tak Ada Impor di 2019 Bulog memastikan Indonesia tidak akan mengimpor beras pada tahun depan. Pasokan dan musim panen jadi andalan untuk memenuhi konsumsi masyarakat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) memastikan Indonesia tidak akan melakukan impor beras pada tahun depan. Pasalnya, sisa pasokan beras masih akan ditambah dengan penyerapan beras petani selama musim panen demi memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, merujuk pada data pengadaan beras per 27 Desember 2018, menyebutkan saat ini realisasi pengadaan beras sudah mencapai 3,26 juta ton. Di antaranya sebanyak 519.285 ton beras telah digunakan untuk operasi pasar. Dengan kata lain, sisa stok beras yang dimiliki Bulog saat ini tercatat 2,74 juta ton.

Menurut hitung-hitungannya, panen besar mulai terjadi pada April. Sehingga Bulog masih akan mengguyur pasokan beras demi mengamankan harga beras antara Januari hingga Maret.


Selama periode tiga bulan pertama itu, ia menghitung pengeluaran beras Bulog bisa menyentuh 1,2 juta ton. Dengan asumsi Bulog tak lakukan penyerapan, maka sisa pasokan Bulog pada awal April diperkirakan mencapai 1,5 juta ton.

Namun, antara April hingga Juli, panen raya diperkirakan bisa menambah pasokan beras Bulog sebanyak 1,8 juta ton. Oleh karenanya, pasokan beras hingga Juli diperkirakan bisa mencapai 3 juta ton.

"Jadi ya insyallah tidak ada impor," jelas pria yang akrab disapa Buwas ini di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (27/12).


Lebih lanjut ia menuturkan, keputusan untuk tidak mengimpor tahun depan sebenarnya juga sudah dikemukakan dalam rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian beberapa waktu lalu. Dari prediksi cuaca dan kelangkaan, ia memprediksi pasokan beras masih cukup hingga pertengahan tahun depan.

Apalagi, ia mengklaim hingga saat ini masih banyak beras yang beredar di masyarakat. Sebagai informasi, Bulog menargetkan menyalurkan beras sebanyak 15 ribu ton per hari dalam operasi pasar. Namun, realisasinya, hanya 4 ribu sehari. Artinya, menurut dia, stok di pasar sudah mencukupi.

"Tapi memang jumlah penggelontoran (beras) yang kami lakukan naik terus. Awalnya sempat 2 ribu ton per hari, lalu naik 3.800 ton per hari, sekarang sudah sampai di atas 4 ribu ton per hari. Artinya, beras memang masih beredar banyak di masyarakat," jelasnya.


Kendati demikian, Bulog mengaku tak mau terlena dengan data tersebut. Sebab, kondisi pasokan dan permintaan beras di setiap daerah tentu berbeda-beda, sehingga operasi pasar masih akan dilakukan.

Apalagi, di beberapa titik, permintaan beras disebut meningkat seiring perayaan Natal dan Tahun Baru. Kementerian Perdagangan bahkan telah mewaspadai kenaikan harga beras di 18 provinsi.

"Kami tetap pantau perkembangan di beberapa wilayah. Kalau harga beras di wilayah sini naik, maka harus kami antisipasi. Kalau di sana turun, berarti kami tidak akan masuk," terang Buwas.


Sejauh ini, pemerintah sudah menerbitkan tiga kali izin impor beras dengan volume 2 juta ton yang terdiri dari 500 ribu ton untuk izin pertama, 500 ribu ton untuk izin kedua, dan 1 juta ton untuk izin ketiga. Keputusan ini didasarkan rakortas pada 15 Januari 2018, 19 Maret 2018, serta 28 Maret 2018.

Hanya saja, pemerintah mencatat realisasi impor beras yang berhasil dilakukan hanya sebesar 1,8 juta ton lantaran kontrak impor dari India sebanyak 200 ribu ton gagal disepakati.


(glh/bir)