BPS: Tren Harga Beras Eceran dan Grosir Meroket pada November

CNN Indonesia | Senin, 03/12/2018 12:47 WIB
BPS: Tren Harga Beras Eceran dan Grosir Meroket pada November Ilustrasi harga beras. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga beras eceran secara nasional terus melaju. Pada November 2018, harga beras eceran naik sekitar 0,7 persen, melanjutkan kenaikan Oktober sebesar 0,24 persen dari September 2018.

Tak hanya harga eceran, rata-rata harga beras grosir secara nasional juga meningkat 0,73 persen pada bulan lalu. Kenaikan harga beras grosir juga lebih tinggi dari kenaikan dari September ke Oktober sebesar 0,22 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kenaikan harga beras terjadi karena harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani dan beras di penggilingan meroket cukup tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini lantaran pola musim tanam petani.


Tercatat, harga Gabah Kering Panen (GKP) melejit 3,64 persen menjadi Rp5.116 per kilogram (kg) pada November 2018. Padahal, kenaikan bulan sebelumnya hanya 0,98 persen. Sementara harga beras di penggilingan untuk kualitas medium naik 2,22 persen menjadi Rp9.604 per kg dari sebelumnya hanya naik 0,92 persen.

"Kalau memasuki Oktober, November, Desember biasanya selalu terjadi kenaikan harga gabah, karena bulan-bulan tersebut sudah memasuki musim tanam. Ketika dia musim tanam, jumlah pasokan gabah pasti turun, ya biasa itu," ucapnya di kantor BPS, Senin (3/12).

Secara rinci, harga gabah di tingkat petani meningkat paling tinggi di Sumatera Barat mencapai Rp7.600 per kg dan terendah di Sulawesi Tenggah Rp3.800 per kg. Untuk harga beras di tingkat penggilingan, tertinggi mencapai Rp7.728 per kg di Sumatera Barat dan terendah Rp3.735 per kg di Bogor, Jawa Barat.


Kemudian di tingkat eceran, beras kualitas premium naik 1,13 persen menjadi Rp9.771 per kg, beras medium naik 2,22 persen menjadi Rp9.604 per kg, dan beras kualitas rendah naik 2,52 persen menjadi Rp9.426 per kg.

Kendati begitu, ia meyebut kenaikan beras tersebut masih cukup wajar karena jelang akhir tahun memang permintaan akan beras meningkat. Namun memang, kenaikan harga ini menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi.

"Tapi kalau dibandingkan dengan November 2017, kenaikan ini masih cukup baik, wajar, dan terkendali," imbuhnya.

Inflasi November 2018 sebesar 0,27 persen secara bulanan. Sementara secara tahun berjalan, inflasi sebesar 2,5 persen dan secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 3,23 persen pada November 2018.

Sementara andil inflasi dari beras mencapai 0,03 persen ke inflasi secara keseluruhan dengan andil dari bahan makanan mencapai 0,25 persen. "Kenaikan harga beras ini memberi andil besar ke inflasi karena bobot beras itu besar terhadap konsumsi masyarakat," terangnya.


Pasokan Tentukan Harga

Sementara untuk waktu yang akan datang, BPS melihat pergerakan harga beras tidak serta merta akan naik tinggi lagi, meski harga gabah di tingkat petani dan beras di penggilingan akan mengalami peningkatan harga.

Sebab, hal ini sangat bergantung pada jumlah pasokan beras di tingkat distributor, termasuk Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog). "Kuncinya stok beras di Bulog, sehingga kalau terus lakukan operasi pasar, harga di level konsumen bisa tetap bagus. Idealnya, harga di konsumen tetap rendah, di petani tinggi, bagus untuk pendapatan petani," katanya.

Berdasarkan catatannya, setidaknya jumlah pasokan Bulog saat ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu. Pada November 2017, jumlah pasokan beras Bulog sekitar 800-900 ribu ton, sehingga kemampuan untuk intervensi terbatas dan harga cenderung lebih tinggi.

"Situasinya beda, tahun lalu jumlah stok di bawah 1 juta, tapi tahun ini jumlah stok lebih bagus, sehingga kami lihat harga beras naik 0,7 persen masih wajar," pungkasnya. (uli/agi)