Penguatan kedua mata uang terjadi karena meningkatnya permintaan investor akan mata uang aset aman (safe haven) selain dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Reuters, pasar lebih memilih kedua mata uang dibandingkan dolar AS karena kembali muncul kekhawatiran perlambatan ekonomi dan perang dagang antar AS-China pada tahun depan.
Kekhawatiran perlambatan ekonomi kembali muncul karena tingkat kepercayaan konsumen AS menurun dan mencapai titik terendah dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, kekhawatiran juga dipengaruhi oleh arah kebijakan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve yang sudah menaikkan bunga sebanyak empat kali pada tahun ini dana akan kembali mengerek bunga sebanyak dua kali pada tahun depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Trump Puji Menkeu AS, Kritik Lagi The Fed |
Selain itu, bayang-bayang kekhawatiran juga muncul lantaran ada dugaan penurunan keuntungan industri di China. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan kebijakan untuk menghalangi perusahaan-perusahaan AS untuk menggunakan produk yang dibuat oleh perusahaan China Huawei Technologies dan ZTE. Meski sebelumnya, kedua negara sudah menyepakati penangguhan perang tarif selama 90 hari.
Sementara indeks dolar AS justru turun 0,15 persen menjadi 96,34 di hadapan enam mata uang lainnya. Begitu pula dengan dolar Kanada yang melemah 7,5 persen dari dolar AS sepanjang bulan ini karena penurunan harga minyak mentah.
"Dolar Kanada adalah satu-satunya mata uang yang gagal untuk mendapatkan keuntungan pada akhir tahun karena minyak tetapi karena harga minyak mentah sekarang stabil," kata Kathy Lien, Direktur Pelaksana Strategi Mata Uang di BK Asset Management.