Yen Jepang dan Franc Swiss Terdongkrak Permintaan Aset Aman

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 14:43 WIB
Yen Jepang dan Franc Swiss Terdongkrak Permintaan Aset Aman Ilustrasi. (Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Yen Jepang dan franc Swiss menguat pada Jumat siang (28/12), masing-masing 0,3 persen dari dolar AS. Sementara secara bulan berjalan, kedua mata uang telah menguat 2,3 persen dan 1,2 persen.

Penguatan kedua mata uang terjadi karena meningkatnya permintaan investor akan mata uang aset aman (safe haven) selain dolar Amerika Serikat (AS). 
Mengutip Reuters, pasar lebih memilih kedua mata uang dibandingkan dolar AS karena kembali muncul kekhawatiran perlambatan ekonomi dan perang dagang antar AS-China pada tahun depan.

Kekhawatiran perlambatan ekonomi kembali muncul karena tingkat kepercayaan konsumen AS menurun dan mencapai titik terendah dalam tiga tahun terakhir. 
Selain itu, kekhawatiran juga dipengaruhi oleh arah kebijakan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve yang sudah menaikkan bunga sebanyak empat kali pada tahun ini dana akan kembali mengerek bunga sebanyak dua kali pada tahun depan.


Kenaikan bunga The Fed diperkirakan akan memberi dampak pada keuntungan perusahaan dan kegiatan ekonomi. 
"Tantangan semakin meningkat pada ekonomi AS. Tantangan berasal dari efek dari biaya pinjaman yang lebih tinggi, dolar AS yang lebih kuat, dukungan yang memudar dari stimulus fiskal, dan permintaan eksternal yang lebih le,ah pada saat meningkatnya proteksionisme perdagangan," ujar James Knightley, ekonom internasional ING, dikutip Jumat (28/12).


Selain itu, bayang-bayang kekhawatiran juga muncul lantaran ada dugaan penurunan keuntungan industri di China. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan kebijakan untuk menghalangi perusahaan-perusahaan AS untuk menggunakan produk yang dibuat oleh perusahaan China Huawei Technologies dan ZTE. Meski sebelumnya, kedua negara sudah menyepakati penangguhan perang tarif selama 90 hari.

"Dengan berakhirnya moratorium tarif 90 hari yang menjulang di cakrawala, pengumuman ini merupakan satu lagi masalah dalam resolusi perdagangan," kata Stephen Innes, kepala perdagangan Asia di Oanda.

Sementara indeks dolar AS justru turun 0,15 persen menjadi 96,34 di hadapan enam mata uang lainnya. Begitu pula dengan dolar Kanada yang melemah 7,5 persen dari dolar AS sepanjang bulan ini karena penurunan harga minyak mentah.

"Dolar Kanada adalah satu-satunya mata uang yang gagal untuk mendapatkan keuntungan pada akhir tahun karena minyak tetapi karena harga minyak mentah sekarang stabil," kata Kathy Lien, Direktur Pelaksana Strategi Mata Uang di BK Asset Management.

(uli)