Rupiah 'Meriah' ke Rp14.390 per Dolar AS Jelang Tutup Tahun

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 16:39 WIB
Rupiah 'Meriah' ke Rp14.390 per Dolar AS Jelang Tutup Tahun Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.390 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin sore (31/12). Posisi ini menguat 178 poin. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.390 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin sore (31/12). Posisi ini menguat 178 poin atau 1,22 persen dari akhir pekan lalu, Jumat (28/12).

Di pasar spot, rupiah memimpin penguatan mata uang Asia. Diikuti won Korea Selatan menguat 0,44 persen, baht Thailand 0,43 persen, dan ringgit Malaysia 0,42 persen.

Kemudian, dolar Singapura 0,27 persen, rupee India 0,25 persen, yen Jepang 0,19 persen, dan peso Filipina 0,12 persen. Hanya dolar Hong Kong yang berada di zona merah dengan melemah 0,01 persen.

Sedangkan mata uang utama negara maju bergerak variasi. Dolar Australia menguat 0,43 persen, poundsterling Inggris 0,28 persen, dan dolar Kanada 0,16 persen. Namun, franc Swiss melemah 0,07 persen, euro Eropa minus 0,1 persen, dan rubel Rusia minus 0,2 persen. Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.481 per dolar AS atau menguat dari akhir pekan lalu di Rp14.542 per dolar AS.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan penguatan rupiah dan beberapa mata uang masih terpengaruh oleh sentimen cuitan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim ada kemajuan yang pesat dari hubungan dagang AS dengan China.


Menurutnya, hal ini menjadi pertanda bahwa kedua negara mulai khawatir akan prospek ekonomi kedua negara ke depan. Apalagi, tanda-tanda penurunan ekonomi sudah mulai terasa saat ini.

"Karena data fundamental tidak bisa bohong. Aktivitas manufaktur China mulai turun, begitu juga dengan indeks kepercayaan konsumen AS," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/12).

Sementara, untuk 2019, Dini memperkirakan rupiah bisa bergerak di kisaran Rp13.800-14.000 per dolar AS, meski asumsi kurs rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 ditetapkan pada angka Rp15.000 per dolar AS.


Menurutnya, ada beberapa sentimen penting yang bakal mempengaruhi laju pergerakan rupiah pada tahun depan. Dari sisi eksternal, pengaruh kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve, dan prospek perekonomian global serta negara maju menjadi sentimen utama.

"Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed tahun depan turun karena prospek perekonomian melemah," imbuhnya.

Sedangkan dari dalam negeri, pengaruh pergerakan rupiah akan diberikan pada kondisi ekonomi pada tahun politik, data fundamental ekonomi, khususnya defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD), hingga kebijakan BI yang bisa menstabilkan rupiah.


(uli/bir)