Tutup Tahun, Rupiah Melemah ke Lebel Rp14.568 per Dolar AS

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 16:49 WIB
Tutup Tahun, Rupiah Melemah ke Lebel Rp14.568 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (28/12) sore berada di posisi Rp14.568 per dolar AS.  Posisi ini melemah 7 poin atau 0,05 persen dari Kamis sore (27/12) yang di Rp14.561 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.542 per dolar AS atau menguat dari kemarin di Rp14.563 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama baht Thailand minus 0,21 persen, renminbi China minus 0,06 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,02 persen. Sedangkan mata uang Asia lainnya bersandar di zona hijau.


Yen Jepang menguat 0,51 persen, rupee India 0,47 persen, won Korea Selatan 0,4 persen, dolar Singapura 0,22 persen, peso
Filipina 0,16 persen, dan ringgit Malaysia 0,16 persen.



Begitu pula dengan mata uang utama negara maju. Dolar Kanada menguat 0,05 persen, euro Eropa 0,1 persen, dolar Australia 0,16 persen, franc Swiss 0,22 persen, dan rubel Rusia 0,23 persen. Hanya poundsterling Inggris yang melemah 0,04 persen dari dolar AS.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah berbalik melemah tipis karena pasar kembali wait and see pada penutupan perdagangan pasar keuangan sore ini.

Menurutnya, wait and see ini terjadi karena selangkah lagi Indonesia bakal memasuki tahun politik, di mana masa debat Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019 bakal digelar. "Tinggal dilihat apakah tahun politik nanti bisa memicu pergerakan rupiah," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/12).

Sementara dari luar negeri, tinggal menunggu kepastian kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve dan kondisi perekonomian global ke depan. Tak ketinggalan, juga bergantung pada perkembangan harga minyak mentah dunia.

"Saat ini harga minyak sudah turun sekitar 41 persen sepanjang kuartal terakhir, ini cukup besar. Ini akan mempengaruhi perlambatan ekonomi karena demand berkurang dan menekan harga," pungkasnya.



(agt/agt)