Ini merupakan kali pertama bagi pemerintahan Kabinet Kerja mampu menembus target mereka. Dari sisi belanja, rekor sama juga tercipta.
Pada 2018 kemarin, belanja pemerintah juga mencatatkan rekor penyerapan tertinggi dalam empat tahun terakhir. Belanja negara mencapai Rp2.202,2 triliun atau 99,2 persen dari pagu senilai Rp2.220,7 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hampir semua asumsi makro yang ditargetkan pemerintah meleset dari target. Hanya asumsi inflasi yang masih sesuai target karena berhasil dikendalikan di level 3,13 persen dari target 3,5 persen.
Salah satunya pada penurunan sejumlah harga komoditas di pasar dunia. Misalnya, harga minyak mentah WTI anjlok 26,2 persen, minyak Brent turun 20,9 persen, batu bara menyusut 7,2 persen, dan komoditas pangan merosot 4,87 persen.
Pelemahan harga komoditas tersebut telah turut menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Dengan kondisi tersebut kami perkirakan pertumbuhan ekonomi akan di angka 5,15 persen, sedikit lebih rendah dari outlook kemarin di 5,17 persen karena tren ekonomi yang mulai melambat, terlihat dari permintaan dan harga komoditas yang menuju ke bawah sejak semester II, khususnya kuartal IV," ujarnya di Kementerian Keuangan, Rabu (2/1).
Sri Mulyani mengatakan masalah nilai tukar terjadi akibat normalisasi kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve. Normalisasi tersebut telah membalikkan arus modal asing dari Tanah Air ke Negeri Paman Sam.
Walhasil, depresiasi kurs rupiah tak bisa dihindari. Mata uang garuda melemah 6,89 persen. Depresiasi ini lebih tinggi dari renminbi China 5,71 persen, peso Filipina 5,24 persen, won Korea Selatan 4,36 persen, Malaysia 2,15 persen, dan dolar Singapura 1,95 persen. Begitu pula dibandingkan dengan baht Thailand dan yen Jepang yang masih terapresiasi, masing-masing 0,69 persen dan 2,44 persen.
"Tapi tingkat depresiasi ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan mata uang lainnya di negara-negara berkembang, seperti Turki, Argentina, dan Brazil," katanya.
Yang lain, terkait harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oils Price/ICP) yang mencapai US$67,5 per barel. Padahal, asumsi awal hanya US$45 per barel. Kemudian, lifting minyak hanya 776 ribu per barel dari target 800 ribu per barel dan lifting gas hanya 1,136 juta per barel dari asumsi 1,2 juta per barel.
"Hal ini karena harga minyak mentah dunia sempat naik di awal tahun," pungkasnya. (uli/agt)