Investasi Sektor ESDM Sepanjang 2018 Tak Capai Target

CNN Indonesia | Jumat, 04/01/2019 21:00 WIB
Investasi Sektor ESDM Sepanjang 2018 Tak Capai Target Investasi sektor ESDM sepanjang 2018 tak mencapai target, dengan realisasi hanya US$32,2 miliar atau di bawah rencana semula yang mencapai US$37,2 miliar. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Investasi sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tak mencapai target. Kementerian melaporkan realisasi investasi ESDM sepanjang 2018 hanya US$32,2 miliar atau di bawah rencana semula yang mencapai US$37,2 miliar.

Kendati demikian, realisasi tahun lalu masih di atas capaian periode 2016-2017 yang hanya di bawah US$30 miliar.

"(Investasi tahun 2018) ini lebih baik dibanding investasi 2017 yang sebesar US$27,5 miliar," ujar Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (4/1).


Jika melihat capaian sejak 2014, realisasi investasi tahun lalu hampir sama dengan capaian pada 2015 yang sebesar US$32,3 miliar, tetapi masih di bawah realiasi 2014 yang sebesar US$34,4 miliar.


Pada dasarnya, target investasi sektor ESDM tahun lalu telah dipangkas dari target awal tahun yang semula dipatok sebesar US$50,12 miliar. Namun, target itu masih juga sulit dicapai.

Menanggapi hal itu, Kementerian ESDM berkomitmen untuk mengawasi dan mengevaluasi berbagai lini agar investasi sektor ESDM tetap optimal.

Jika dirinci, porsi terbesar investasi berasal dari investasi sektor minyak dan gas (migas) yang mencapai US$12,5 miliar atau di bawah target US$16,8 miliar. Sebesar US$11,99 miliar di antaranya merupakan investasi hulu migas. Secara tahunan, investasi sektor migas masih lebih besar dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$11 miliar.

Kemudian, investasi ketenagalistristikan mencapai US$11,3 miliar atau 92,62 persen dari target US$12,2 miliar. Realisasi ini meningkat 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.


Selanjutnya, investasi sektor mineral dan batu bara (minerba) sebesar US$6,8 miliar atau melampui target yang dibidik US$6,2 miliar. Sementara, investasi sektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) mencapai US$1,6 miliar atau sekitar 80 persen dari target US$2 miliar. Secara tahunan, investasi EBTKE tumbuh 23 persen.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengungkapkan ke depan ia akan meningkatkan pengawasan dan pengaturan pelaksanaan proyek.

Tak hanya itu, SKK Migas akan mendampingi investor untuk mengatasi kendala yang dihadapi di lapangan agar bisa meningkatkan produksi. Tak ayal, Dwi optimististis investasi hulu migas tahun depan bisa mencapai US$14 miliar.

Dwi mengingatkan investasi dari investor penting mengingat produksi lapangan migas Indonesia telah berada di fase penurunan alami.


"Di industri hulu migas, tanpa investasi, tingkat penurunan produksi migas itu 11 persen per tahun," ujarnya. (sfr/lav)