Waskita Karya Targetkan Lima Ruas Tol Laris Terjual Tahun Ini

CNN Indonesia | Sabtu, 05/01/2019 12:27 WIB
Waskita Karya Targetkan Lima Ruas Tol Laris Terjual Tahun Ini Ilustrasi jalan tol. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Waskita Karya (Persero) Tbk menargetkan dapat mendivestasikan atau menjual lima dari 18 ruas tol kepada investor tahun ini. Emiten berkode WSKT ini bahkan sampai memasarkan ruas tol ke investor luar negeri.

Direktur Keuangan Waskita Karya Haris Gunawan menyatakan pihaknya akan mendatangi langsung investor yang berpotensi beli di Dubai, Hong Kong, dan Prancis. Perusahaan juga menggunakan jasa konsultan dari Pricewaterhouse Coopers (PWC), Deloitte, dan Ernst & Young (EY).

"Kami sudah bicara pada tahun politik ini kami masih optimis, tapi mungkin konsepnya memang beda. Biasanya tunggu peminat, sekarang kami datangi investornya," kata Haris, Jumat (4/1).


Waskita Karya membebaskan investor memilih ruas tol yang akan dibeli. Artinya, manajemen tak menargetkan ruas tol mana saja yang harus terjual tahun ini.


Beberapa ruas tol yang ditawarkan oleh Waskita Karya, antara lain Tol Cimanggis-Cibitung, Tol Batang-Semarang, Tol Solo-Ngawi, Tol Ngawi-Kertosono, Tol Pasuruan-Probolinggo-Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Tol Kayu Agung-Palembang-Betung, Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat, dan Tol Serpong-Cinere.

"Target kami lima ruas tol, kalau bisa lebih itu harapan kami," imbuh Haris.

Selain divestasi, perusahaan berencana untuk menerbitkan obligasi sekitar Rp5 triliun. Namun, Haris belum bisa memastikan jenis obligasi (bond) yang akan dirilis, apakah perpetual bond atau global bond.

"Itu sangat tergantung dengan kondisi, tapi itu akan kami lakukan di semester I akhir," tutur Haris.


Nantinya, perusahaan akan menggunakan sebagian raihan dana obligasi atau sekitar Rp2 triliun untuk pembiayaan kembali (refinancing). Sama seperti divestasi ruas tol yang diubah skemanya, perusahaan juga akan mengubah skema penawaran obligasi.

"Konsep yang akan kami tawarkan menggunakan obligasi tanpa bunga," tutur Haris.

Dengan kata lain, obligasi yang dirilis Waskita Karya tak akan memberikan pembayaran bunga secara berkala, melainkan akan dibayar penuh pada saat yang ditentukan atau masa jatuh tempo.

Lalu, manajemen akan mengikuti langkah pemerintah yang mengenakan skema kupon mengambang atau floating. Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh pemerintah dalam menerbitkan surat utang negara (SUN) beberapa waktu terakhir.


"Jadi floating rate plus spread. Jadi kami akan tentukan spread-nya nanti floating nya menggunakan capital market rate. Itu yang sedang kami tawarkan ke penjamin emisi efek," jelas Haris.

Selain itu, perusahaan juga akan mencari perusahaan penjamin emisi efek yang memiliki peringkat AAA untuk menarik investor menanamkan investasi dengan membeli obligasi yang ditawarkan.

Laba Stagnan

Waskita Karya menargetkan laba bersih tahun ini stagnan sebesar Rp4,1 triliun. Angka itu tak jauh beda dengan target laba bersih pada tahun lalu yang juga sekitar Rp4 triliun.

Direktur Utama I Gusti Ngurah Putra mengatakan kinerja stagnan tahun ini disebabkan beberapa tol baru akan beroperasi tahun ini. Dengan demikian, ada biaya operasional lebih yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.

"Kami harus alokasikan top up untuk operasionalnya," ucap Putra.


Ia menjabarkan sejumlah pembangunan tol yang akan rampung tahun ini, misalnya Terbanggi Besar-Palembang dan Jakarta-Cikampek Elevated. Jika tidak selesai, maka Waskita Karya akan menggunakan kedua tol itu sebagai tol fungsional selama Lebaran tahun ini.

Sementara itu, perusahaan menargetkan dapat meraup pendapatan usaha sebesar Rp54 triliun dengan nilai kontrak baru sebesar Rp56 triliun. "Sehingga total kontrak yang akan dikelola pada 2019 diharapkan menjadi sebesar Rp120 triliun," jelas Putra.

Lebih lanjut, ia mengatakan perusahaan telah menerima pembayaran atas proyek dan dana talangan sebesar Rp40,15 triliun sepanjang tahun lalu. Jumlah itu terdiri dari Tol Batang-Semarang sebesar Rp5,75 triliun, Light Rail Transit (LRT) Palembang Rp3,9 triliun, Tol Pasuruan-Probolinggo Rp2,1 triliun, Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung Rp1,96 triliun, dan penerimaan proyek lainnya Rp18,23 triliun.

"Kami juga ada penerimaan atas factoring piutang proyek Salatiga-Kartasura Rp2 triliun serta adanya pengembalian dana talangan tanah sebesar Rp6,21 triliun," papar Putra.


Pada 2018, perusahaan menargetkan pendapatannya meningkat 10 persen dan laba bersih sebesar 8 persen. Bila dilihat kinerjanya per September 2018, pendapatan perusahaan naik menjadi Rp36,23 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp28,53 triliun.

Kenaikan itu membuat laba bersih Waskita Karya positif. Perusahaan membukukan keuntungan sebesar Rp3,72 triliun, sedangkan pada kuartal III 2017 lalu sebesar Rp2,59 triliun. (aud/lav)