Jawab Trump, Powell Tolak Mundur dari Kursi Bos The Fed

CNN Indonesia | Minggu, 06/01/2019 23:55 WIB
Jawab Trump, Powell Tolak Mundur dari Kursi Bos The Fed Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell memastikan dirinya tak akan mundur dari posisi bos bank sentral Amerika Serikat (AS). (Alex Wong/Getty Images/AFP))
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell memastikan dirinya tak akan mundur dari posisi bos bank sentral Amerika Serikat (AS). Sikap ini dibuat sekalipun Presiden AS Donald Trump memintanya bahkan ingin memecatnya.

Sebelumnya, Trump ingin memecat Powell karena kebijakan yang diambilnya dianggap tak sejalan dengan semangat pemerintahan AS yang tengah menggenjot pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.

The Fed di bawah pimpinan Powell, justru agresif menaikkan tingkat bunga acuan untuk memulangkan aliran modal ke AS. Namun, hal ini dianggap Trump berpotensi membuat ekonomi melambat karena bunga perbankan bakal ikut naik.




"Tidak (akan mundur). Publik harus tahu bahwa The Fed memiliki budaya yang kuat di kegiatan nonpolitik dan kami berkomitmen untuk mencapai tujuan yang telah diundangkan kepada kami dengan cara nonpolitik atas dasar pemikiran terbaik," ujarnya, dikutip AFP, Minggu (6/1).

Di sisi lain, Powell juga meyakinkan pasar keuangan bahwa kenaikan bunga acuan The Fed tidak benar-benar terbatas, meski sudah memberi sinyal kenaikan bunga acuan yang tak lagi agresif pada tahun ini, yaitu sebanyak dua kali.

Jawab Trump, Powell Tolak Mundur dari Kursi Bos The FedPresiden AS, Donald Trump. (CNN)

Hal ini berbeda dengan kebijakan The Fed pada tahun lalu yang agresif mengerek bunga acuan sebanyak empat kali, yaitu pada Maret, Juni, September, dan Desember 2018. Namun, Powell memastikan The Fed terus mencermati perkembangan ekonomi ke depan.

"Tidak ada rancangan kebijakan dan kekhususan untuk meredam inflasi, kami akan sabar melihat bagaimana ekonomi berkembang," imbuhnya.


Lebih lanjut, Powell mengatakan The Fed tetap optimis dalam memandang prospek ekonomi AS ke depan. Hal ini tercermin dari beberapa data ekonomi yang tetap kuat meski ada kekhawatiran perlambatan ekonomi akibat ketegangan hubungan dagang AS-China.

"Kami mendengarkan dengan hati-hati mengenai pesan yang dikirimkan pasar dan kami akan mempertimbangkan risiko penurunan dalam membuat kebijakan ke depan," tekannya.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini akan berada di kisaran 3,7 persen. Perkiraan ini turun dari outlook sebelumnya sebesar 3,9 persen.

Menurut IMF, penurunan ekonomi merupakan dampak dari ketegangan kebijakan perdagangan dan pengenaan tarif impor antara AS-China. Selain itu karena negara berkembang tengah berjuang dengan kondisi keuangan dan arus modal keluar yang lebih ketat.

(uli/kid)