Kronologi Gimik Terbang Sepuasnya Pakai Sriwijaya Travel Pass

CNN Indonesia | Kamis, 10/01/2019 09:31 WIB
Kronologi Gimik Terbang Sepuasnya Pakai Sriwijaya Travel Pass Ilustrasi pesawat Sriwijaya Air. (Dok. Sriwijaya Air).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sriwijaya Travel Pass (SJ Travel Pass), program terbang sepuasnya selama satu tahun penuh dengan membayar Rp12 juta yang diinisiasi Sriwijaya Air, menuai protes para anggotanya. Sejumlah anggota SJ Travel Pass mengaku kesulitan memesan tiket penerbangan melalui portal maskapai penerbangan asuhan Chandra Lie tersebut.

Ali Akmal (34 tahun), anggota SJ Travel Pass misalnya, mengaku selalu kehabisan tiket sejak 5 Desember 2018. Padahal, saat mendaftar pertama kali pada Mei 2018, ia masih bisa menikmati layanan terbang sepuasnya.

"Kalau pesan lewat aplikasi Sriwijaya Air sebagai anggota SJ Travel Pass, tiket selalu sudah habis terjual. Tapi, kalau coba pesan bukan sebagai anggota, banyak seat (kursi) kosong dengan pilihan rute dan jadwal yang beragam. Hampir semua destinasi sudah sold out untuk member (anggota),"terang dia kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/1).



Pengalaman serupa juga dialami Anggota SJ Travel Pass lain, Yulia Argentin (40 tahun). Ia bergabung dengan SJ Travel Pass pada 8 Juni 2018. Ketika ia dan anggota lain akan melakukan perjalanan, hanya lima orang yang terangkut menjadi penumpang, sedang sisanya tak mendapatkan tiket.

"Ketika orang keenam pesan tiket, sudah tidak bisa karena sudah sold out. Saya sendiri ikut grup anggota SJ Travel Pass di Whats App dan Telegram, ternyata banyak kejadian seperti yang saya alami," ujarnya.

Lalu bagaimana sebenarnya skema terbang sepuasnya ala Sriwijaya Air itu?



Perusahaan burung besi berekor biru merah tersebut menawarkan keanggotaan SJ Travel Pass pada 9 April 2018 hingga 9 Juni 2018 lalu. Perusahaan cukup gencar menawarkan program itu, tercermin dari sejumlah iklan, promosi, dan pemberitaan di media massa pada saat program meluncur.

Ali dan Yulia yang tergiur iming-iming pun merogoh kocek Rp12 juta untuk menikmati penerbangan gratis selama satu tahun penuh seperti janji manis Sriwijaya Air. Apalagi, terbang gratis tak dibatasi rute dan jadwal. Ini berarti, seluruh anggota bisa memesan tiket kemana pun, setiap hari kerja, termasuk akhir pekan.

Tak cuma itu, pembayaran Rp12 juta yang dipatok untuk menjadi anggota SJ Travel Pass pun bisa dicicil selama satu tahun melalui bank rekanan Sriwijaya Air, seperti BCA, BNI, dan Bank Mandiri, dan Bank Permata.


"Anggota SJ Travel Pass hanya dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Iuran Wajib Jasa Raharja (IWJR), pajak bandara, dan biaya administrasi. Nilainya berbeda-beda. Misalnya tiket pulang pergi Jakarta-Bali, saya tinggal bayar Rp380 ribu saja," tutur Ali.

Persoalannya, bulan-bulan awal hingga bulan keenam program berjalan, pemesanan tiket bagi anggota SJ Travel Pass nyaris mulus. Ali dan Yulia tak mendapati kendala. Namun, sejak surat elektronik manajemen meluncur yang menyebut penyesuaian alokasi kursi bagi anggota SJ Travel Pass, baik Ali maupun Yulia kian kesulitan mencari tiket terbang.

Ali sendiri mengaku telah 15 kali menggunakan program terbang sepuasnya SJ Travel Pass. Kemudian, pada Oktober 2018, pria yang bekerja di industri travel itu mendapat email yang berisi kebijakan baru Sriwijaya Air berupa penyesuaian alokasi kursi atawa jatah terbang bagi anggota.


Sriwijaya Air berdalih pembatasan karena kondisi bisnis penerbangan yang kurang berpihak kepada semua perusahaan penerbangan. Makanya, penerbangan dibatasi. Lebih rinci, email itu menyebut penerbangan dengan pesawat Boeing 737-800 atau Boeing 737-900 alokasi tempat duduk bagi anggota SJ Travel Pass sebanyak 75 kursi.

Untuk pesawat jenis Boeing 737-300 atau Boeing 737-500 alokasi tempat duduk bagi anggota SJ Travel Pass sebanyak 35 kursi. Sedangkan, penerbangan dengan tipe pesawat ATR 72-600 alokasi tempat duduk bagi anggota SJ Travel Pass sebanyak 15 kursi.

Sejak pembatasan tersebut, anggota SJ Travel Pass makin sulit mendapatkan tiket. Puncaknya pada Desember 2018, mereka sering kehabisan tiket. Kondisi tersebut terjadi bagi semua rute, baik di Jawa maupun di luar Jawa, termasuk untuk semua jadwal penerbangan baik pada hari kerja maupun hari libur panjang.


Mereka menilai sikap Sriwijaya Air tersebut tidak transparan. Sebab, Sriwijaya Air menutupi informasi ketersediaan kursi bagi anggota SJ Travel Pass. Pun keluhan yang disampaikan oleh para anggota SJ Travel Pass tidak ditindaklanjuti oleh perseroan.

"Sriwijaya Air secara nyata tidak transparan tentang alokasi kursi anggota SJ Travel Pass, dan ini semua dilakukan secara sepihak oleh Sriwijaya Air, sangat merugikan dan seperti menjual produk dengan kebohongan," kata Novita Angelina (29 tahun), anggota SJ Travel Pass.

CNNIndonesia.com sudah berusaha menghubungi manajemen Sriwijaya Air, namun manajemen belum juga merespons hingga berita ini diturunkan. Di antaranya, Wakil Komisaris Utama Sriwijaya Air Chandra Lie, Senior Manager Corporate Communications Sriwijaya Air Agus Soedjono dan Retri Maya. (ulf/bir)