Meroket dari 2017, Kredit Bank 2018 Capai 12,88 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 11/01/2019 20:15 WIB
Meroket dari 2017, Kredit Bank 2018 Capai 12,88 Persen Ilustrasi kredit perbankan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 2018 boleh jadi merupakan waktu kebangkitan bagi pertumbuhan kredit perbankan setelah melempem dalam dua tahun terakhir. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit bank tumbuh 12,88 persen sepanjang 2018.

Ini merupakan kali pertama penyaluran kredit kembali mencicip angka pertumbuhan dua digit setelah 2015. Pada 2016 dan 2017 kredit hanya tumbuh 7,87 persen dan 8,24 persen.

Meski demikian, bila dibandingkan dengan periode 2011-2013, pertumbuhan kredit 2018 terbilang rendah. Tercatat, pada 2011 kredit tumbuh 24,59 persen, 2012 di angka 23,08 persen, dan 2013 sekitar 21,26 persen.


Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menilai pertumbuhan kredit cukup memuaskan karena berhasil melampaui target sebesar 10-12 persen. Kredit perbankan juga dinilai mampu tumbuh di tengah banjir tekanan dari ekonomi global, khususnya akibat kebijakan normalisasi moneter dari bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve.

Kebijakan The Fed selama ini dinilai membuat aliran modal asing yang ada di negara-negara berkembang pulang kampung ke Negeri Paman Sam.


Tak ketinggalan, ada pula sentimen dari perang dagang antara AS dengan China, ketegangan geopolitik antar sejumlah negara, hingga krisis ekonomi yang menerpa beberapa negara.

"Namun dengan berbagai kebijakan dan reformasi struktural mendapat tanggapan positif dari pelaku pasar, sehingga pertumbuhan kredit bank terus berlanjut," ucap Wimboh di Pertemuan Tahunan OJK, Jumat (11/1).

Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perbankan rupanya juga mampu dijaga lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Tercatat, NPL gross sebesar 2,37 persen dan NPL net 1,14 persen. NPL 2018 lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 2,59 persen.

Sementara rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) mencapai 92,6 persen. Menurutnya, posisi ini menunjukkan kondisi yang cukup baik. Sebab, likuiditas cenderung terjaga, meski meningkat.

"Apalagi bicara likuiditas perbankan itu indikatornya tidak hanya terbatas dari LDR. Misalnya, CAR perbankan di level 23,2 persen," katanya.


Wimboh bilang, kondisi likuiditas yang terjaga tak lepas dari peran Bank Indonesia (BI) yang terus menjaga likuiditas di pasar keuangan. Misalnya dengan merelaksasi ketentuan batas pencadangan bank di bank sentral atau dikenal dengan istilah Giro Wajib Minimum.

Untuk tahun ini, wasit industri jasa keuangan memperkirakan kredit bank bakal tumbuh di kisaran 12-14 persen. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh di kisaran 8-10 persen. Lalu, NPL dapat menurun ke kisaran 2,2 persen.

Sedangkan Rencana Bisnis Bank (RBB) 2019 membidik pertumbuhan kredit mencapai 12,06 persen dan pertumbuhan DPK di angka 11,49 persen.

"Hal ini mengingat akan melandainya Fed Fund Rate (bunga acuan The Fed) dari sebelumnya, sehingga kami melihat capital inflow kembali lagi ke emerging market, termasuk Indonesia," jelasnya. (uli/agi)