Hero Supermarket Disebut Gulung Tikar Bukan Karena e-Commerce

CNN Indonesia | Senin, 14/01/2019 18:36 WIB
Hero Supermarket Disebut Gulung Tikar Bukan Karena e-Commerce Ketua idEA Ignatius Untung menanggapi penutupan seluruh toko Hero Supermarket. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) menyebut PT Hero Supermarket Tbk (HERO Group) gulung tikar karena persaingan bisnis dengan minimarket, seperti Alfamart dan Indomaret. Bukan karena pergeseran pola belanja masyarakat dari toko fisik (offline) ke perdagangan elektronik (e-commerce).

Hal itu disampaikan Ketua idEA Ignatius Untung, mengingat porsi penjualan kelompok bahan-bahan makanan (groceries) di e-commerce masih sangat minim. "Mungkin, hanya satu persen dari total penjualan e-commerce. Dominasi masih oleh produk fesyen," imbuh dia kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/1).

Apalagi, ia mensinyalir kehadiran Alfamart dan Indomaret muncul karena dua minimarket tersebut hadir semakin masif di dekat pemukiman masyarakat. Tak jarang toko-toko itu berjajar di jalan raya dan beroperasi berdekatan.


"Jadi yang mengkanibal model bisnis Hero Supermarket ini adalah Alfamart dan Indomaret," katanya.

Tak cuma itu, Ignatius menilai kehadiran fitur dompet pembayaran, seperti Gojek dan OVO, ikut memberi andil bagi redupnya bisnis Hero. Soalnya, kedua dompet elektronik itu gencar melakukan promosi belanja guna menarik minat masyarakat, termasuk merangkul minimarket.

Caranya, dengan memberi pelayanan transaksi pembayaran hingga potongan harga (diskon) dan penawaran-penawaran lainnya.


"Itu pasti mendorong transaksi ke sana, orang pikir 'wah ngapain beli di hypermarket? Tidak ada diskonnya, kalau di sini walau tidak lengkap, tapi yang saya butuhkan ada. Plus ada diskon,' begitu," jelasnya.

Selain itu, menurut dia, ada pengaruh dari tata kelola operasional bisnis yang mungkin tak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. "Yang tutup baru Hero. Masih ada yang lain yang bertahan. Kecuali yang lain ikut tutup," ujarnya.

Hal lainnya, yakni perubahan periode belanja konsumen dari yang semula bulanan, kini disesuaikan dengan kebutuhan.


"Sekarang kalau ada perlu, beli. Kalau tidak, ya sudah. Kalau dulu kan setiap bulan ke Hero Supermarket, Carrefour, dan lainnya, beli untuk sebulan," tutur Ignatius.

Sebelumnya, Hero Supermarket mengumumkan penutupan seluruh tokonya, sebanyak 26 gerai, seiring dengan lesunya bisnis makanan yang dijual ritel modern itu. Bersamaan dengan penutupan gerai, perusahaan juga merumahkan sebanyak 532 orang karyawan.

Penutupan gerai dilakukan karena 26 toko menyumbang beban operasional yang tinggi. Perusahaan mengaku bisnis ritel penjualan makanan turun hingga 6 persen. Akibatnya, perusahaan menanggung kerugian hingga Rp163 miliar pada kuartal ketiga tahun ini atawa lebih dari dua kali lipat kerugian kuartal III 2017, yakni Rp79 miliar.


Meski demikian, secara konsolidasi, Hero Supermarket mengklaim bahwa perusahaan masih meraup laba pada kuartal III 2018. Namun, bisnis perusahaan bukan semata-mata Hero Supermarket, melainkan juga Giant Ekstra, Giant Ekspres, dan 258 toko Guardian Health & Beauty, serta satu toko IKEA.


(uli/bir)