LRT Jabodebek Ditargetkan Bisa Layani Penumpang Akhir 2020

CNN Indonesia | Senin, 14/01/2019 16:05 WIB
LRT Jabodebek Ditargetkan Bisa Layani Penumpang Akhir 2020 Pekerja menyelesaikan proyek stasiun kereta api ringan (Light Rail Transit) di Stasiun LRT Taman Mini, Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kontraktor PT Adhi Karya (Persero) Tbk menargetkan pembangunan kereta ringan (Light Rail Transit/LRT) Jabodebek Fase I bisa rampung dan beroperasi melayani penumpang secara komersial pada akhir 2020 atau paling lambat pertengahan 2021.

Untuk itu, Adhi Karya terus mengejar penyelesaian pembangunan fisik prasarana LRT Jabodebek yang meliputi jalur LRT Jabodebek, depo, dan stasiun.

Direktur Operasi II Adhi Karya Pundjung Setya Brata mengatakan hingga saat ini pembangunan fisik prasarana LRT Jabodebek telah mencapai 56,1 persen. Rinciannya, perkembangan lintasan Cawang-Cibubur sebesar 76,21 persen, lintasan Cawang-Bekasi Timur sebesar 51,06 persen, dan lintasan Cawang-Kuningan-Dukuh Atas sebesar 44,19 persen.


"Untuk keseluruhan konstruksi fisiknya kami upayakan selesai pada akhir tahun 2019," kata Pundjung di Jakarta, Senin (14/1).


Pundjung melanjutkan salah satu kendala yang ditemui kontraktor adalah pembebasan lahan untuk pembangunan depo LRT Jabodebek yang berlokasi di Bekasi Timur seluas 12 hektar (ha). Pundjung menuturkan Adhi Karya baru berhasil membebaskan 33 bidang tanah dari 300 bidang tanah yang akan digunakan untuk membangun depo.

"Depo (target selesai) akhir 2020 karena pembebasan tanah masih belom clear (selesai)," imbuhnya.

Sejalan dengan itu, Adhi Karya juga akan mulai mendatangkan rangkaian kereta yang diproduksi oleh PT Industri Kereta Api (INKA). Pundjung mengungkapkan kereta LRT Jabodebek pertama ditargetkan tersedia pada Juni 2019. Selanjutnya, akan dilakukan tes jalur dari lintasan Cibubur sampai dengan Ciracas.

"Sebelum kami operasikan, kami akan melakukan uji coba minimum tiga bulan untuk memastikan kereta ini aman," kata Pundjung.


Untuk diketahui, LRT Jabodebek fase I memiliki panjang lintasan 44,43 km. Megaproyek infrastruktur ini memebutuhkan investasi sebesar Rp22,8 ttriliun. Proses pembangunan sendiri sudah dilakukan sejak 2015. (ulf/lav)