Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per November lalu pertumbuhan penyaluran kredit industri perbankan sebesar 12,05 persen. Sedangkan, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya sebesar 7,19 persen.
Imbasnya, rasio volume kredit dengan penerimaan dana atau Loan to Deposito Rasio (LDR) perbankan mencapai 92,59 persen. Angka LDR tersebut mencerminkan kondisi likuiditas yang cukup ketat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:LPS Ramal Likuiditas Bank di 2019 akan Ketat |
"Dana yang kami gunakan untuk kredit tidak semata-mata berasal dari DPK, tapi bisa dari dana lainnya yang semua itu bisa memberikan keuntungan bagi masing-masing bank,"kata Maryono di Gedung DPR RI, Selasa (15/1).
"Pertanyaannya bagaimana sumber dananya? Inilah yang kami pikirkan," imbuh Maryono.
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Suprajarto menambahkan selain mendorong variasi sumber pendanaan, BRI juga akan mengembangkan platform digital banking. Dengan platform digital ini, Suparajarto berharap BRI bisa meningkatkan penggalangan DPK.
Lihat juga:LPS Kerek Suku Bunga Penjaminan |
"Platform ini yang akan mendukung penggalangan dana di masyarakat yang masih di bawah bantal," kata Suprajarto.
Senada, Corporate Secretary Mandiri Rohan Hafas mengatakan bahwa jalan terbaik untuk mengatasi tekanan likuiditas yang dialami perbankan saat ini adalah mencari dana di luar pendanaan konvensional seperti giro, tabungan, dan deposito. Sebelumnya, Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan mengungkapkan jika perusahaan plat merah itu akan melakukan penggalangan dana non konvensional sebesar Rp40 triliun.
Rencananya, Bank Mandiri akan menerbitkan surat utang (obligasi), Medium Term Notes (MTN), dan Negotiatible Certifcate of Deposit (NCD) dalam bentuk dolar AS sebesar maksimal US$2 miliar.
Selain pendanaan dalam dolar AS, Panji bilang, Bank Mandiri juga akan menerbitkan instrumen pendanaan berdenominasi rupiah senilai Rp10 triliun. Portofolionya bisa dalam bentuk obligasi, MTN, NCD, maupun Repurchase Agreement (Repo).
"Kami sedang pertimbangkan untuk waktu penerbitannya karena harus membaca situasi pasar. Jadi variasinya tidak hanya DPK saja," kata Rohan.
Mengutip laporan keuangan perbankan BUMN hingga kuartal III 2018, tercatat BTN memiliki rasio LDR tertinggi yaitu 112 persen. Selanjutnya, Bank Mandiri yang memiliki rasio LDR sebesar 93,35 persen. Posisi LDR Bank Mandiri tidak jauh berbeda dengan posisi LDR BRI yakni 93 persen. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (BNI) memiliki rasio LDR sebesar 89 persen. (ulf/agt)