Pengetatan Likuiditas, Bank BUMN Cari Pendanaan Alternatif

CNN Indonesia | Selasa, 15/01/2019 18:37 WIB
Pengetatan Likuiditas, Bank BUMN Cari Pendanaan Alternatif Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyatakan akan lebih giat mencari sumber pendanaan non konvensional. Upaya ini dilakukan sebagai solusi ketatnya likuiditas perbankan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per November lalu pertumbuhan penyaluran kredit industri perbankan sebesar 12,05 persen. Sedangkan, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya sebesar 7,19 persen.

Imbasnya, rasio volume kredit dengan penerimaan dana atau Loan to Deposito Rasio (LDR) perbankan mencapai 92,59 persen. Angka LDR tersebut mencerminkan kondisi likuiditas yang cukup ketat.


Ketua Himbara sekaligus Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) Maryono menuturkan bahwa sumber pembiayaan perbankan tidak hanya berasal dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Penghimpunan dana alternatif akan mengacu kepada strategi bisnis masing-masing bank.


"Dana yang kami gunakan untuk kredit tidak semata-mata berasal dari DPK, tapi bisa dari dana lainnya yang semua itu bisa memberikan keuntungan bagi masing-masing bank,"kata Maryono di Gedung DPR RI, Selasa (15/1).

Maryono merincikan beberapa alternatif pendanaan bagi perbankan di luar DPK antara lain penerbitan surat utang (obligasi), surat berharga, sekuritisasi aset, dan lain sebagainya. Namun demikian, ia memastikan tekanan likuiditas ini tidak akan menurunkan target ekspansi penyaluran kredit perbankan.

"Pertanyaannya bagaimana sumber dananya? Inilah yang kami pikirkan," imbuh Maryono.

Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Suprajarto menambahkan selain mendorong variasi sumber pendanaan, BRI juga akan mengembangkan platform digital banking. Dengan platform digital ini, Suparajarto berharap BRI bisa meningkatkan penggalangan DPK.


"Platform ini yang akan mendukung penggalangan dana di masyarakat yang masih di bawah bantal," kata Suprajarto.

Senada, Corporate Secretary Mandiri Rohan Hafas mengatakan bahwa jalan terbaik untuk mengatasi tekanan likuiditas yang dialami perbankan saat ini adalah mencari dana di luar pendanaan konvensional seperti giro, tabungan, dan deposito. Sebelumnya, Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan mengungkapkan jika perusahaan plat merah itu akan melakukan penggalangan dana non konvensional sebesar Rp40 triliun.

Rencananya, Bank Mandiri akan menerbitkan surat utang (obligasi), Medium Term Notes (MTN), dan Negotiatible Certifcate of Deposit (NCD) dalam bentuk dolar AS sebesar maksimal US$2 miliar.

Selain pendanaan dalam dolar AS, Panji bilang, Bank Mandiri juga akan menerbitkan instrumen pendanaan berdenominasi rupiah senilai Rp10 triliun. Portofolionya bisa dalam bentuk obligasi, MTN, NCD, maupun Repurchase Agreement (Repo).


"Kami sedang pertimbangkan untuk waktu penerbitannya karena harus membaca situasi pasar. Jadi variasinya tidak hanya DPK saja," kata Rohan.

Mengutip laporan keuangan perbankan BUMN hingga kuartal III 2018, tercatat BTN memiliki rasio LDR tertinggi yaitu 112 persen. Selanjutnya, Bank Mandiri yang memiliki rasio LDR sebesar 93,35 persen. Posisi LDR Bank Mandiri tidak jauh berbeda dengan posisi LDR BRI yakni 93 persen. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (BNI) memiliki rasio LDR sebesar 89 persen. (ulf/agt)