Jokowi Ungkap Kunci Sukses Bisnis Gibran dan Kaesang ke ASN

CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 18:54 WIB
Jokowi Ungkap Kunci Sukses Bisnis Gibran dan Kaesang ke ASN Presiden Jokowi bersama keluarga. (Biro Pers Setpres).
Bogor, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkap kunci kesuksesan bisnis yang dirintis anak-anaknya, Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep ke Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pensiunan binaan PT Taspen (Persero). Hal itu disampaikannya dalam rangka membuka acara Program Wirausaha ASN dan Pensiunan di Sentul International Convention Center (SICC) di Bogor, Jawa Barat, Rabu (16/1).

Menurut Jokowi, kunci sukses usaha anak-anaknya adalah merintis dengan rekan (partner) bisnis yang tepat, sehingga ketika calon perintis usaha tidak memiliki kecakapan dalam suatu hal, maka bisa ditutupi oleh rekan bisnis lainnya.

Semula, ia sempat menawarkan usaha mebel dan pabrik yang dimilikinya ke tiga anak-anaknya agar diteruskan. Namun ternyata, tidak ada satu pun yang mau meneruskan usaha mantan Wali Kota Solo itu.


Gibran si putra sulung, lanjut dia, menyampaikan ingin memiliki bisnis sendiri. Ia mengaku sempat kaget. Apalagi, bisnis yang ingin dirintis bergerak di sektor kuliner, yaitu berjualan martabak.

"Katanya mau usaha sendiri, tahu-tahu jualan martabak, padahal tidak ada pengalaman di bidang itu. Saya lihat, 'oh ternyata ada partner yang sudah jualan martabak lama,' dia gandeng dengan perjanjian bagi untung," ceritanya, Rabu (16/1).

Walhasil, bisnis tersebut berhasil tumbuh perlahan-lahan. Mulai dari satu toko di Solo hingga akhirnya memiliki 40 cabang di seluruh pelosok Indonesia. "Setelah ada 40 cabang, ya pabrik saya kalah, omzetnya kalah," lanjutnya.


Begitu pula dengan putra bungsunya, Kaesang. Ia mengaku tak pernah membayangkan bila Kaesang bakal ikut-ikutan berjualan makanan, seperti kakaknya. Apalagi, Kaesang masih duduk di perguruan tinggi.

"Tiba-tiba yang satu ikutan, mau jualan pisang. Saya lihat lagi, dapat dari mana? Ternyata partner juga, dari yang sudah agak lama jualan, tapi diimprovisasi, diberi label dan kemasan, dan dipasarkan secara online," katanya.

Seperti halnya jejak bisnis Gibran, rupanya bisnis Kaesang berhasil tumbuh. Saat ini, ia mengklaim usaha bisnis Kaesang sudah memiliki 54 toko di semua kota.


"Tapi saran saya, kalau ragu mulai usaha, ya cari partner saja. Tapi harus dipastikan cocok ya, jangan 1-2 tahun berantem, nanti larinya malah ke hukum, ke pengadilan," ungkapnya.

Selain memiliki partner, Jokowi bilang para ASN dan pensiunan yang mau membangun usaha bisa memulainya dengan memilih jenis usaha yang dekat dengan keseharian dan bidang pekerjaannya selama ini. Misalnya, ketika ASN bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan, (KKP), maka bisa memilih bisnis yang berhubungan dangan ikan, seperti menjual produk olahan ikan.

"Jangan jauh-jauh dari situ, karena ilmunya kan sudah diketahui. Sehari-hari kan sudah bergelut di situ, sehingga lebih mudah. Dibandingkan dulu kerja di KKP, bisnisnya di pertanian, jauh itu," celetuknya.


Selanjutnya, perlu juga memilih bisnis dengan membaca kebutuhan pasar dan risiko minim. Misalnya, membangun kos-kosan. Soalnya, menurut Jokowi, bisnis kos-kosan sekalipun sedang sepi peminat, namun nilai bangunan yang didirikan dan tanah yang ditempati selalu tumbuh dari waktu ke waktu.

"Misalnya sekarang beli Rp500 juta (bangunan kos-kosan), setiap tahun harganya naik, misalnya sudah Rp2 miliar, mau dilepas ya tidak apa, nanti beli lagi yang baru bisa beli dua mungkin, bisa ditabung juga," terang dia.

Lebih lanjut Jokowi memberikan saran usaha bagi para ASN dan pensiunan agar mereka bisa merintis usaha ketika memasuki masa pensiun nanti. Usaha ini, katanya, tak hanya sebagai sumber pendapatan tambahan, namun juga bisa menjadi pengisi waktu di hari tua.


"Masa pensiun ini bukan berarti produktivitas berhenti, ASN juga bisa tetap bekerja di masa purnatugas," katanya.

Di sisi lain, menurutnya, pensiunan yang membangun usaha sejatinya bisa membantu negara. Sebab, kondisi pasar Tanah Air sangat besar lantaran harus memenuhi kebutuhan untuk 261 juta orang dan hal ini belum sepenuhnya bisa ditutupi produksi industri domestik.

Alhasil, beberapa produk di Indonesia saat ini masih diisi oleh luar negeri. "Makanya saya ajak (para ASN dan pensiunan) agar mengisi pasar dengan produk sendiri," pungkasnya.


(uli/bir)