Efek Defisit Neraca Perdagangan Mulai Terasa, Rupiah Melemah

CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 16:59 WIB
Efek Defisit Neraca Perdagangan Mulai Terasa, Rupiah Melemah Rupiah berada di posisi Rp14.128 per dolar AS pada perdagangan pasar sport Rabu (16/1) sore. Posisi ini melemah 38 poin dibanding kemarin sore. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.128 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu sore (16/1). Posisi ini melemah 38 poin atau 0,27 persen dari Selasa (15/1) di Rp14.090 per dolar AS.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia (Jisdor BI) menempatkan rupiah di posisi Rp14.154 per dolar AS atau melemah dari kemarin sore di Rp14.084 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama sejumlah mata uang lainnya. Mulai dari peso Filipina melemah 0,39 persen, rupee India minus 0,2 persen, ringgit Malaysia minus 0,09 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,02 persen.


Namun, beberapa mata uang Asia lainnya justru bersandar di zona hijau. Baht Thailand menguat 0,7 persen, dolar Singapura 0,15 persen, yen Jepang 0,1 persen, renminbi China 0,09 persen, dan won Korea Selatan 0,06 persen.

Seperti halnya mata uang Asia, mata uang utama negara maju juga bergerak variasi. Beberapa di antaranya berlabuh ke zona merah, seperti dolar Australia dan franc Swiss, masing-masing melemah 0,07 persen dan 0,01 persen.

Sementara beberapa di antaranya berhasil menguat dari dolar AS, misalnya rubel Rusia menguat 0,54 persen, poundsterling Inggris 0,12 persen, dolar Kanada 0,09 persen, dan euro Eropa 0,07 persen.


Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pergerakan rupiah berbalik melemah karena sentimen defisit neraca perdagangan diperkirakan baru ditanggapi oleh pasar. Sebab, kemarin, pasar masih cukup fokus dengan sentimen positif dari luar negeri.

Sentimen itu berasal dari tanggapan pasar atas ketidakagresifan (dovish) bank sentral AS, The Federal Reserve, dalam mengerek bunga acuan. "Bahkan, The Fed mengisyaratkan selama semester I 2019 mungkin tidak ada kenaikan suku bunga," ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Rabu (16/1).

Lalu, dari kawasan Eropa, pasar sempat terpukul oleh data ekonomi Jerman yang menunjukkan perlambatan dalam delapan tahun terakhir. Sementara dari Inggris, voting parlemen yang menolak proposal Brexit membuat pasar terpengaruh.


Namun, kini mata uang Garuda justru berbalik arah karena defisit perdagangan yang mencapai US$8,57 miliar dan menjadi yang paling buruk dalam sejarah Indonesia. "Tapi pelemahan rupiah ini sebenarnya tidak terlalu dalam, meski agak berat juga peluang menguat ke Rp14 ribu," jelasnya.

Sementara sampai akhir pekan, Dini memperkirakan rupiah bakal dipengaruhi oleh hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Namun, konsensus pasar memperkirakan bank sentral nasional akan menahan bunga acuan di level 6 persen.


(uli/bir)