Curang soal Gula, Izin 6 Perusahaan Makanan Minuman Dicabut

CNN Indonesia | Kamis, 17/01/2019 18:22 WIB
Curang soal Gula, Izin 6 Perusahaan Makanan Minuman Dicabut Ilustrasi gula rafinasi. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah telah mencabut izin usaha enam perusahaan di sektor makanan dan minuman (mamin) sepanjang tahun lalu akibat terbukti menjual gula kristal rafinasi (GKR) ke pasaran.

Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Veri Anggriono Sutiarto mengatakan enam perusahaan tersebut melakukan kecurangan dengan memalsukan data kepada industri pengolah gula rafinasi. Ia mencontohkan, ada perusahaan makanan dan minuman ini menyebut kebutuhannya mencapai 100 ton, padahal realitanya hanya 10 ton.

"Kan artinya ada yang berlebih 90 ton kan. Nah sisanya itu dijual kembali ke pasar. Tapi angka ini contoh ya," ungkap Veri, Kamis (17/1).


Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 117/2015 tentang ketentuan Impor Gula, Pasal 9, Ayat 2 disebutkan gula kristal rafinasi hasil industri hanya dapat diperdagangkan dan didistribusikan kepada industri. Gula jenis ini dilarang untuk diperdagangkan ke pasar di dalam negeri.


Veri menyebut enam perusahaan yang dicabut izinnya tersebut berada di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek), Yogyakarta dan Jawa Tengah. Namun, ia enggan menyebut identias perusahaan tersebut.

"Jangan disebut lah, tapi kelas menengah ini. Pelakunya juga sama dia lagi dia lagi, tapi perusahaannya di berbagai daerah," ujar Veri.

Lebih lanjut Veri menuturkan enam perusahaan ini menjual gula kristal rafinasi tersebut melalui toko daring (online) dan juga secara offline. Kondisi ini membuat harga gula dari petani terganggu.

Kementerian Perdagangan pun merekomendasikan ke dinas daerah untuk mencabut enam perusahaan makanan dan minuman tersebut. Selain itu, Veri menyebut pihaknya juga melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian.


"Pemalsuan jumlah kebutuhan gula itu kan sudah ranah kepolisian, tapi untuk rekomendasi cabut izin usaha kami bisa. Yang mencabut itu dinas daerah, sekarang semua sudah dicabut," kata Veri.

Ke depannya, Veri meminta kepada industri gula kristal rafinasi untuk mengecek lebih teliti kebutuhan gula dari perusahaan makanan dan minuman yang menjadi konsumennya. Selama ini, mayoritas perusahaan pengolah gula kristal rafinasi hanya membaca dokumen yang diberikan oleh perusahaan makanan dan minuman tersebut tanpa mengkaji terlebih dahulu.

"Bukan salah perusahaan gula rafinasi juga, karena mereka fokus mengolah kan. Tapi coba tolong kami minta cek lagi kalau bisa," pungkas Veri. (aud/agi)