Indef Sebut RI Jadi Importir Gula Nomor Wahid di Dunia

CNN Indonesia | Senin, 14/01/2019 20:05 WIB
Indef Sebut RI Jadi Importir Gula Nomor Wahid di Dunia Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri menyebut Indonesia kini menduduki urutan nomor wahid impor gula di dunia. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri menyebut Indonesia kini sudah menduduki nomor wahid untuk urusan impor gula di dunia.

Berdasarkan Statistik Impor Badan Pusat Statistik (BPS), Faisal mengatakan impor gula Indonesia sudah mencapai 4,6 juta ton antara Januari hingga November 2018. Ia kemudian membandingkan posisi Indonesia dengan posisi impor negara-negara lain melalui data yang dihimpun dari portal statistik Statista.

Dari data tersebut, posisi Indonesia masih lebih tinggi ketimbang impor China yang tercatat 4,2 juta ton pada periode yang sama. Posisi Indonesia dan China kemudian disusul oleh Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Bangladesh yang menunjukkan angka impor masing-masing sebanyak 3,11 juta ton, 2,94 juta ton, dan 2,67 juta ton.


Lima negara pengimpor gula terbesar lainnya adalah Aljazair sebanyak 2,27 juta ton, Malaysia sebanyak 2,02 juta ton, Nigeria sebanyak 1,87 juta ton, Korea Selatan sebanyak 1,73 juta ton, dan Arab Saudi sebanyak 1,4 juta ton. Melihat data ini, Faisal mengaku terkejut.


"Saya kaget impor Indonesia sudah melampaui China dan AS. Padahal sebelumnya, Indonesia tak pernah jadi negara pengimpor terbesar," ujar Faisal, Senin (14/1).

Ia melanjutkan tren kenaikan impor gula sebetulnya sudah berlangsung sejak 2009. Kala itu, Indonesia mengimpor gula sebesar 1 juta ton. Kemudian meningkat menjadi 1,4 juta ton, hingga akhirnya naik lagi ke angka 1,8 juta ton pada 2018. Hal yang mengherankan, impor gula Indonesia meningkat tajam dan menembus angka 4 juta ton per tahun dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2016, Indonesia mengimpor gula sebanyak 4,8 juta ton atau 41,18 persen dibanding tahun sebelumnya 3,4 juta ton. Kemudian, impor gula turun ke angka 4,5 juta ton di tahun berikutnya, namun naik lagi pada 2018 sebesar 4,6 juta ton.

Lebih lanjut, Faisal mempertanyakan kenaikan impor gula ini ditengah konsumsi nasional yang disebutnya cukup stagnan.


Ia mengutip data Statistik Pasar Gula dan Perdagangan yang dirilis United States Department of Agriculture (USDA) yang menunjukkan bahwa konsumsi Indonesia hanya berkisar di antara 6,3 juta ton hingga 6,7 juta ton selama tiga tahun terakhir.

"Konsumsi domestik tidak ada yang tajam, tapi peningkatan impor lebih cepat dari peningkatan kebutuhan. Impor kan seharusnya menutup selisih produksi dan konsumsi, tapi ini terlihat produksi domestik juga segitu-gitu saja. Antara 2 juta ton sejak beberapa tahun terakhir," tambah dia.

Sementara itu, ekonom INDEF lainnya Ahmad Heri Firdaus menerangkan tingginya impor gula memang diperuntukkan bagi kebutuhan industri. Hanya saja, hal itu tidak tercermin dengan kinerja industri makanan dan minuman, yang merupakan industri terbanyak pengguna gula industri.

Ia mengacu pada data BPS bahwa pertumbuhan industri makanan dan minuman cenderung stagnan. Pada kuartal III 2016 silam, industri makanan dan minuman sempat menyentuh angka 9,82 persen secara tahunan.


Hanya saja, di periode yang sama tahun berikutnya, nilai pertumbuhan industri makanan dan minuman turun menjadi 8,92 persen dan akhirnya turun lagi menjadi 8,1 persen di tahun 2018.

Maka itu, ia menilai impor gula yang menumpuk hanya menambah beban defisit neraca perdagangan saja. Defisit neraca perdagangan gula disebutnya membengkak dari US$2,08 miliar di 2016 menjadi US$2,34 miliar di tahun berikutnya.

"Harusnya impor gula ini bisa mendorong industri, tapi dampaknya ke defisit perdagangan gula terus melebar," jelas Ahmad. (glh/lav)