Indomaret dan Alfamart Mulai Kerek Harga Makanan dan Minuman

CNN Indonesia | Kamis, 17/01/2019 14:55 WIB
Indomaret dan Alfamart Mulai Kerek Harga Makanan dan Minuman Ilustrasi minimarket. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah minimarket di Kawasan Depok mulai mengerek harga jual produk makanan dan minumannya. Kenaikan cukup bervariasi mulai dari Rp100 hingga Rp500 atau tak sampai Rp1.000 per produk.

Indomaret, misalnya, berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, kenaikan terjadi untuk produk mie instan dan makanan ringan, seperti cokelat dan wafer. Kemudian, beberapa minuman kemasan juga ikut naik, seperti susu.

"Kenaikannya kecil, di bawah Rp1.000 per produk," ujar salah satu petugas Indomaret yang enggan disebutkan namanya, Kamis (17/1).
Kenaikan harga jual produk makanan dan minuman juga terpantau di Alfamart. Seperti, cokelat, susu, makanan ringan, dan makanan olahan kentang.


"Kenaikan harga tidak sampai Rp1.000, paling hanya beberapa ratus saja," kata petugas yang juga tak mau disebutkan namanya.

Sementara itu, petugas kasir di Alfamidi menyebut gerainya belum mengerek harga jual sejak awal tahun. Justru, ia mengaku banyak promo yang diberikan oleh pemasok. Sebagian lain bahkan menurunkan harga jual di kisaran Rp100 - Rp200 per produk.

"Banyak yang turun. Tidak tentu, tapi ya seperti makanan camilan, cokelat, promo," tutur dia.



Kendati demikian, ia mengatakan bahwa gerai tempatnya bekerja akan menaikkan harga pada akhir bulan ini.

Ikuti Produsen

Peritel Indomart dan Alfamart mengaku memang akan mengikuti langkah produsen jika harga makanan dan minuman naik. Upaya ini dilakukan agar dompet perusahaan tak boncos.

Namun, Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Solihin mengatakan manajemen akan berhitung terlebih dulu. Ia juga memastikan kenaikan harga jual akan di bawah persentase produsen.


"Kami kan ada margin. Dihitung dulu, produsen menaikkan berapa, nanti jumlah margin disamakan. Jadi, kinerja tak bermasalah," imbuhnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (17/1).

Misalnya, ia mencontohkan produsen menaikkan harga jual di kisaran 5 persen sampai kurang dari 10 persen, maka penjualan eceran Alfamart akan naik di bawah 5 persen. "Jadi kenaikannya tetap di bawah kenaikan persentase modal. Yang penting tidak rugi. Asal jalan terus," terang Solihin.

Pun demikian, hingga kini ia mengaku belum mendapatkan informasi terkait kenaikan harga dari produsen.


Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Indomarco Prismatama Wiwiek Yusuf menuturkan pihaknya akan mengerek harga jual dengan jumlah kenaikan yang sama yang dipatok produsen. Misal, pemasok menaikkan harga 5 persen, maka kenaikan harga jual juga akan sebesar 5 persen.

"Sembari kami juga mempertimbangkan stok dan harga pasar. Jadi cari waktu yang tepat," katanya.

Yang pasti, sambung Wiwiek, pihaknya tak serta merta menaikkan harga jual jika stok barang belum diperbarui. Stok barang lama akan dijual dengan harga lama. Begitu pun dengan stok baru akand ijual dengan harga baru.


Intinya, ia menegaskan pihaknya tak asal-asalan mengerek harga ke konsumen. Menurut dia, ada pertimbangan daya beli masyarakat dan biaya operasional. "Biasanya produsen melakukan kajian harga juga dengan pertimbangan kompetitor," tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Rahmat Hidayat mengungkapkan bahwa pelaku usaha mulai menaikkan harga jual sekitar 5 persen hingga kurang dari 10 persen pada bulan ini.

Kenaikan harga sebagai imbas dari bahan baku produksi yang berasal dari impor. Seperti diketahui, tahun lalu rupiah terganjal dolar AS. "Kalau dicek di gerai ritel, sebenarnya ada penyesuaian harga di bulan ini dengan kisaran 5 persen hingga kurang dari 10 persen kira-kira," pungkasnya. (aud/bir)