Menko Darmin: Memang, Ada Persaingan Ketat Antar Ritel

CNN Indonesia | Jumat, 18/01/2019 15:08 WIB
Menko Darmin: Memang, Ada Persaingan Ketat Antar Ritel Ilustrasi gerai ritel Central Neo Soho yang memutuskan menutup lapaknya secara permanen di Neo Soho. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menanggapi sektor ritel yang 'berguguran'. Menurut dia, persaingan usaha yang ketat, diperparah dengan kehadiran perdagangan elektronik (e-commerce) kian menggerus kehadiran ritel konvensional.

Sekadar mengingatkan, penutupan seluruh 26 gerai Hero Supermarket dan diikuti dengan satu gerai Central Neo Soho, mengawali awal tahun ini. Pada tahun lalu, sejumlah merek internasional hengkang dari Indonesia karena pemegang merek lokal mengakhiri kerja samanya.

"Yang namanya ada perubahan, tentu mesti ada yang tersingkir. Memang, ada persaingan yang ketat antar ritel," terangnya ditemui di kantornya, Jumat (18/1).


Karenanya, ia menyarankan agar peritel mulai mengubah strategi bisnis mereka. Apalagi, konstelasi sektor ritel sudah dipadati dengan konsep minimarket, sehingga pasar bagi peritel bisa dianggap semakin sempit.

"Jadi memang di Indonesia ini, dunia ritel sedang berubah. Ada e-commerce, namun juga ada dari yang namanya minimarket," imbuh Darmin.

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengatakan maraknya penutupan gerai merupakan konsekuensi normal bagi pelaku usaha ritel jika sudah menyerah dengan persaingan di sektor ritel.


Selain itu, penutupan gerai merupakan langkah logis bagi pelaku usaha jika memang sudah tak kuat lagi membendung tingginya tekanan biaya operasional yang dihadapi.

Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta mengatakan sebelum menutup gerai, tentu peritel sudah mencari cara agar biaya-biaya bisa ditekan. Efisiensi dicari dengan mempertimbangkan biaya pemasaran, sewa tempat, hingga gaji sumber daya manusia.

Nah, apabila penghasilan ritel tetap tak sebanding dengan tekanan biayanya, maka penutupan gerai menjadi pilihan terakhir.


"Tutup toko ini sebetulnya pilihan jalan terakhir, semua tentu didasarkan atas hitungan untung-rugi. Kalau satu toko tak menjanjikan, ibarat bagian tubuh yang tak berfungsi, tentu perlu diamputasi," kata Tutum.

Selain itu, penutupan satu gerai bukan berarti pengusaha ritel benar-benar menyerah dengan kegiatan usahanya. Ia bilang peritel bisa jadi berencana merelokasi ke tempat yang lebih ramai atau memiliki biaya sewa yang lebih murah.

Atau, ia melanjutkan bisa jadi peritel hanya fokus ke beberapa gerai, namun gerai itu benar-benar memberikan cuan yang melimpah bagi perusahaan.


"Dulu misalkan lokasi itu sempat ramai. Tapi karena perkembangan waktu, lokasi yang ramai ternyata sudah pindah. Bisa jadi lokasinya memang sudah salah dan masyarakat beralih ke tempat yang lebih nyaman, sehingga sah saja relokasi dan menutup outlet lama," katanya.

Sebelumnya, PT Hero Supermarket Tbk (HERO Group) menutup seluruh gerai ritelnya seiring dengan lesunya bisnis makanan yang dijual ritel modern itu. Dampaknya, 532 orang karyawan dirumahkan.

Manajemen Hero Supermarket mengaku bisnis ritel penjualan makanan turun hingga 6 persen. Akibatnya, perusahaan menanggung kerugian hingga Rp163 miliar pada kuartal ketiga tahun ini atawa lebih dari dua kali lipat kerugian kuartal III 2017, yakni Rp79 miliar.


Tak hanya itu, PT Central Retail Indonesia juga memutuskan untuk menutup toko ritel Central Departement Store Neo Soho di kawasan Grogol. Penutupan permanen akan dilakukan mulai 18 Februari mendatang.


(glh/bir)