Kronologi Central Neo Soho Cuma 'Seumur Jagung' di Indonesia

CNN Indonesia | Selasa, 15/01/2019 14:18 WIB
Kronologi Central Neo Soho Cuma 'Seumur Jagung' di Indonesia Gerai Central Department Store. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Toko ritel Central Department Store Neo Soho di kawasan Grogol akan ditutup. Penutupan akan resmi dilakukan mulai 19 Februari mendatang.

Langkah tersebut terbilang mengejutkan. Pasalnya, usia Central Department Store Neo Soho terbilang masih muda.

Central Department Store Neo Soho dibuka oleh PT Central Retail Indonesia pada 2016 lalu. Dirangkum dari berbagai sumber, Central Retail Indonesia merupakan perpanjangan tangan dari perusahaan ritel asal Thailand.


Perjalanan bisnis yang didirikan oleh Tiang dan putranya Samrit Chirathivat tersebut dimulai pada 1947. Pada saat dimulai perusahaan ritel mewah tersebut merupakan toko kelontong sederhana di Thailand.


Bisnis kelontong tersebut kemudian berkembang. Dari kelontong, mereka mulai mengimpor barang-barang, seperti buku pakaian siap pakai dan kosmetik dari Amerika Serikat dan Eropa. 

Berkat kegigihan pengelolanya, Central berhasil memperluas jangkauan bisnis mereka ke negara tetangga di Asean. Pada 2014, mereka meluncurkan Central Department Store di Indonesia di Grand Indonesia East Mall.

Dua tahun kemudian atau pada 2016, manajemen pun membuka cabang ritel baru di kawasan Grogol di dalam Neo Soho. Lokasinya satu komplek dengan kawasan Central Park.

Public Relations Department Manager Central Retail Indonesia Dimas Wisnu Wardana sebenarnya menjelaskan kinerja dari toko ritel di Central Park ini selalu tumbuh sejak 2016 hingga jelang penutupan toko. Begitu juga dengan jumlah pengunjungnya.


Sayang, ia enggan membocorkan gambaran kinerja Central Department Store Neo Soho beberapa waktu terakhir. Dimas juga tak berkenan menjawab berapa jumlah rata-rata pengunjungnya dalam satu tahun.

Umur Singkat Central Department Store Neo Soho di IndonesiaCentral Department Store Neo Soho. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).

"Dari segi bisnis dan komersial selalu naik setiap tahunnya untuk Central Neo Soho. Kalau dari segi kunjungan juga selalu meningkat setiap tahunnya," ucap Dimas.

Kendati demikian, kinerja dan pengunjung yang meningkat nyatanya bukan jaminan bagi perusahaan untuk mempertahankan toko ritel keduanya ini. Manajemen mengakui pola belanja konsumen mulai berubah ke segmen digital, yakni melalui toko daring dan e-commerce.

Perusahaan pun menangkap sinyal tersebut dan melakukan diskusi dengan sejumlah penyewa mall. Setelah itu, kata Dimas, Central Retail Indonesia memutuskan menutup Central di Neo Soho.

"Lebih jauh kami sedang memperkuat omni channel berbelanja Centrap Department Store, " Central on Demand" melalui aplikasi whatsapp dan line," ucap Dimas.

Omni channel bisa diartikan sebagai model bisnis yang membuat masyarakat bisa berbelanja melalui berbagai cara, yakni e-commerce hingga media sosial.

Dimas menambahkan bahwa sebelum menutup tokonya, Central di Neo Soho menggelar diskon hingga 90 persen sejak 14 Januari-17 Februari mendatang.

(aud/agt)