'Gara-gara' China, Rupiah Melempem Masuk Zona Merah di Asia

CNN Indonesia | Senin, 21/01/2019 16:59 WIB
'Gara-gara' China, Rupiah Melempem Masuk Zona Merah di Asia Rupiah berada di posisi Rp14.226 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Senin (21/1) sore. Posisi ini melemah 0,35 persen dibanding pembukaan tadi pagi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.226 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Senin sore (21/1). Posisi ini melemah 0,35 persen dari posisi pembukaan yang berada di angka Rp14.175 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia (JISDOR BI) menempatkan rupiah di posisi Rp14.212 per dolar AS atau melemah dibandingkan penutupan akhir pekan lalu, yakni Rp14.182 per dolar AS.

Kinerja rupiah tercatat melemah bersama dengan mata uang Asia lainnya. Pelemahan rupiah lebih parah ketimbang Yuan China yang melemah 0,25 persen, dolar Singapura sebesar 0,04 persen, dan baht Thailand yang melemah 0,13 persen.


Namun demikian, performa rupiah kali ini lebih baik daripada peso Fiipina yang melemah 0,48 persen dan won Korea Selatan yang turun 0,56 persen.

Tak hanya mata uang Indonesia, mata uang negara maju juga menurun. Poundsterling Inggris tercatat turun 0,23 persen, dolar Kanada melemah 0,2 persen, dolar Australia keok 0,11 persen melawan mata uang Paman Sam. Cuma, euro Eropa yang berhasil menguat 0,1 persen melawan dolar AS.

Analis Monex Investindo Future Faisyal mengatakan pergerakan rupiah hari ini diwarnai bejibun sentimen. Antara lain, penguatan dolar AS sebagai antisipasi kelanjutan pembicaraan China dan AS terkait perang dagang.


Kemudian, pergerakan rupiah kali ini juga bergantung oleh harga minyak, karena perusahaan jasa migas Baker Hughes melaporkan penurunan pengeboran yang dilakukan oleh perusahaan migas di AS.

Hal lain yang paling penting adalah pertumbuhan ekonomi China kuartal IV yang menyentuh 6,4 persen atau 6,6 persen sepanjang tahun. Realisasi pertumbuhan ekonomi China itu tercatat yang terendah sejak 28 tahun silam.

"Dan tak lupa, masalah keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) juga menjadi penyebab karena belum ada jalan keluar antara Perdana Menteri Theresa May dan parlemen Inggris," jelas Faisyal.


Senada, Analis Asia Trade Point Futures (ATPF) Andri Hardianto mengatakan pertumbuhan ekonomi China 2018 sebesar 6,6 persen sangat berdampak terhadap seluruh mata uang Asia. Rupiah menjadi salah satu mata uang yang terdampak cukup parah lantaran antisipasi defisit neraca perdagangan lanjutan dan menekan transaksi berjalan.

"Apalagi, (neraca perdagangan semakin lebar) karena harga minyak terus mengalami kenaikan," tandasnya.


(glh/bir)