Negosiasi Perang Dagang Bikin Rupiah 'Jos' Lawan Dolar AS

CNN Indonesia | Jumat, 18/01/2019 17:04 WIB
Negosiasi Perang Dagang Bikin Rupiah 'Jos' Lawan Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.186 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot, Jumat sore (18/1). Posisi ini menguat tipis 5 poin atau 0,04 persen dari Kamis (17/1) yang di Rp14.192 per dolar AS.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia (Jisdor BI) menempatkan rupiah di posisi Rp14.182 per dolar AS atau melemah dari kemarin di Rp14.158 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah berada di zona hijau bersama baht Thailand 0,25 persen, won Korea Selatan 0,06 persen, dan renminbi China 0,06 persen. Sementara dolar Singapura dan ringgit Malaysia stagnan.


Sedangkan mata uang Asia lainnya terperosok ke zona merah. Dolar Hong Kong melemah 0,02 persen, rupee India minus 0,14 persen, yen Jepang minus 0,2 persen, dan peso Filipina minus 0,28 persen.


Begitu pula dengan mata uang utama negara maju. Rubel Rusia melemah 16,84 persen, poundsterling Inggris minus 0,32 persen, dan dolar Australia minus 0,17 persen. Namun, franc Swiss menguat 0,02 persen, dolar Kanada 0,05 persen, dan euro Eropa 0,09 persen.

AnalisMonexInvestindoDiniNurhadiYasyi mengatakan penguatan rupiah hari ini terjadi karena ada sinyal positif dari kelanjutan perundingan dagang antara AS dengan China.
Kedua negara sepakat masih akan terus negosiasi soal perang dagang. AS berjanji tidak akan menaikkan tarif impor lagi ke China selama negosiasi berlangsung.

"Ini memberi sentimen positif ke rupiah, karena pulihnya risk appetite investor," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/1).

Di sisi lain, rupiah juga terbantu oleh derasnya aliran modal asing yang masuk (inflow) ke Indonesia. Data bank sentral nasional mencatat inflow mencapai Rp14,75 triliun sepanjang 2-17 Januari 2019.


Kendati begitu, Dini melihat penguatan rupiah cenderung terbatas pada hari ini karena di sisi lain ada tekanan bagi rupiah, yaitu dari revisi pertumbuhan ekonomi China pada 2017 dari 6,9 persen menjadi 6,8 persen. Meski usai revisi itu diumumkan, pemerintah dan bank sentral China menyatakan bakal melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan ekonomi Negeri Tirai Bambu.

"Ini sempat jadi kekhawatiran. Tapi setidaknya kekhawatiran perlambatan ekonominya juga mulai mereda karena negosiasi perang dagang masih jalan. Jadi untuk sementara sentimen eksternal masih adem ayem," pungkasnya.
(uli/agt)