Ia mengatakan 50 persen dana kelolaan tersebut ditempatkan di perbankan syariah. Dana itu disebar di 31 perbankan syariah di dalam negeri.
"Yang besar itu Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah, dan CIMB Niaga," ujar Anggito di Jakarta, Kamis (24/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Anggito menerangkan kenaikan dana kelolaan haji sejalan dengan tingginya calon jemaah baru yang mendaftar. Menurut data yang dimilikinya, total jamaah baru yang sudah mendaftar sebanyak 664 ribu orang atau lebih tinggi dari target yang hanya 550 ribu sepanjang 2018 lalu.
Untuk tahun ini, BPKH menargetkan dana kelolaan haji meningkat 7,07 persen menjadi Rp121 triliun. Namun, untuk skema investasinya nanti akan diubah dengan menambah keranjang investasi langsung di sektor penerbangan, avtur, perhotelan, money changer, dan katering.
"Jadi 50 persen di perbankan syariah, 30 persen di surat berharga syariah, 20 persen di investasi langsung dan lain-lain," tutur Anggito.
Beberapa investasi langsung itu akan diimplementasikan dengan membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV). Namun, Anggito belum mau membocorkan identitas perusahaan yang akan diajaknya bekerja sama. (aud/agt)