Emiten Batu Bara 'Pede' Cuan Positif Meski Impor China Loyo

CNN Indonesia | Sabtu, 26/01/2019 12:36 WIB
Emiten Batu Bara 'Pede' Cuan Positif Meski Impor China Loyo Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah emiten batu bara optimistis tetap berkinerja ciamik di tengah perlambatan ekonomi China. Hal ini lantaran porsi batu bara yang diekspor ke Negeri Tirai Bambu tidak mendominasi penjualan perseroan.

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) misalnya, perusahaan hanya menjual 13 persen batu baranya ke China dari total produksi. Bila dihitung berdasarkan produksi sejak Januari-September 2018 yang sebanyak 38,98 juta ton, jumlah yang diekspor ke China sebanyak 5,06 juta ton.

"Destinasi ekspor kami cukup seimbang dan tidak terkonsentrasi pada satu negara tertentu, maka hal ini (perlambatan ekonomi China) tidak berdampak secara langsung pada permintaan batu bara Adaro," ungkap Febriati Nadira selaku Head of Corporate Communication Adaro Energy kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/1).


Febriati merinci sejumlah negara tujuan ekspor Adaro Energy, antara lain Asia Tenggara dengan porsi 38 persen dari total produksi, Asia Timur 31 persen, India 13 persen, dan beberapa negara lain sebesar 5 persen. Belum lagi, perusahaan juga fokus pada pemenuhan batu bara di dalam negeri.


"Volume batu bara yang diperuntukkan di dalam negeri jumlahnya telah sesuai dengan aturan Domestic Market Obligation (DMO) yang ditetapkan pemerintah," sambung Febriati.

Dalam aturan DMO, pemerintah mewajibkan perusahaan batu bara menyediakan 25 persen batu bara dari total produksinya di dalam negeri. Mengacu pada aturan tersebut, artinya Adaro Energy menjual produksi batu baranya sebesar 25 persen di Indonesia.

Kendati masih percaya diri dengan kinerjanya, Febriati tak menyangkal jika melambatnya ekonomi China akan mempengaruhi permintaan baru bara secara global. Parahnya lagi, harga komoditas tersebut juga berpotensi turun.

"Kondisi tersebut (ekonomi China) dapat juga berpengaruh terhadap harga batu bara dunia karena permintaan dan penawaran yang tidak seimbang sehingga harga tertekan dan turun," terang Febriati.


Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Suherman menuturkan porsi penjualan batu bara ke China pada tahun lalu hanya 11 persen dari total penjualan sebanyak 24,7 juta ton. Ini artinya, penjualan ke China hanya 2,71 juta ton.

"Mudah-mudahan pelemahan ekonomi China ini tidak berdampak pada kinerja keuangan atau operasional Bukit Asam," ucap Suherman.

Suherman mengatakan perusahaan memang tak mau mengambil risiko dengan memfokuskan penjualan ekspor ke China. Untuk itu, perusahaan juga memasarkan produknya ke India, Bangladesh, Thailand, Filipina, Hong Kong, dan Vietnam.

"Total ekspor sekitar 40-45 persen dan (penjualan) domestik 55-60 persen," jelas Suherman.


Meskipun begitu, Suherman tak menampik jika Bukit Asam masih mengharapkan permintaan batu bara dari China. Manajemen kini sedang berdiskusi dengan salah satu pihak dari China yang akan membeli batu bara dari Bukit Asam.

"Kami sudah kontak dengan salah satu trader asal China, tapi sampai saat ini belum ada realisasi pembeliannya," tutur Suherman.

Kinerja Keuangan Loyo

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki berpendapat perlambatan ekonomi China jelas berpengaruh terhadap permintaan batu bara ke sejumlah emiten yang memproduksi komoditas tersebut tahun ini. Bila demikian, kinerja keuangan pada 2019 pun rentan turun dibandingkan dengan 2018.

"Pengaruh cukup besar, tapi tidak sampai 50 persen," ucap Achmad.

Bila melihat kinerja Adaro Energy pada kuartal III tahun lalu, laba bersih perusahaan turun 16,04 persen menjadi US$312,7 juta dibandingkan periode yang sama pada 2017 sebesar US$372,45 juta.


Hal ini lantaran pendapatan perusahaan hanya tumbuh tipis 9,46 persen. Walhasil, pendapatan Adaro Energy kuartal III 2018 hanya sebesar US$2,66 miliar, sedangkan kuartal III 2017 sebesar US$2,43 miliar.

Sementara itu, Bukit Asam lebih beruntung. Laba bersihnya naik 49,61 persen dari Rp2,62 triliun menjadi Rp3,92 triliun. Realisasi itu seiring dengan peningkatan pendapatannya yang sebesar 20,7 persen menjadi Rp16,03 triliun dari Rp13,28 triliun.

Achmad menyebut potensi pengaruh ke kinerja keuangan tak sampai 50 persen karena Adaro dan Bukit Asam juga masih menggantungkan penjualannya di domestik. "Emiten batu bara juga sudah mengantisipasi dengan memasok Independent Power Producer (IPP) atau produsen listrik swasta," kata Achmad.

Di sisi lain, Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menyarankan emiten batu bara melebarkan sayap ke negara lain dalam memasarkan produk batu baranya. Dengan kata lain, emiten batu bara jangan sampai hanya fokus pada satu negara saja untuk penjualan ekspornya.


"Selama perusahaan bisa menawarkan produk ke pihak negara lain sebagai substitusi permintaan dari China maka tidak akan pengaruh ke kinerja keuangan," ujar Nafan.

Jika China benar-benar mengurangi permintaan batu baranya, Nafan mengatakan perusahaan wajib mencari target penjualan baru untuk menutupi porsi yang dibeli oleh China sebelumnya. Ia menjelaskan pemerintah juga perlu turun tangan jika memang ada penurunan permintaan dari China.

"Tugas pemerintah perkuat diplomasi ekonomi, buka akses pasar ke negara lain. Jadi ini memang butuh pemerintah juga," jelas Nafan.

Sebagai informasi, ekonomi China hanya tumbuh 6,6 persen pada 2018 lalu. Angka itu merupakan terendah dalam 28 tahun terakhir atau sejak 1990 silam.


Mengutip Reuters, perlambatan ekonomi China disebabkan sektor investasinya yang lesu dan tingkat kepercayaan konsumen melemah akibat perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). Realita ini menjadi perhatian dunia karena China merupakan negara dengan ekonomi kedua terbesar di dunia.

Kendati begitu, Menteri Koodinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan kondisi ekonomi di China saat ini tak memiliki dampak besar pada ekonomi Indonesia. Sebab, peranan selisih ekspor dan impor terhadap perekonomian saat ini masih kecil. (aud/lav)