REKOMENDASI SAHAM

Aksi Korporasi Pompa Harga Saham Bank Permata dan Vale

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 28/01/2019 11:40 WIB
Aksi Korporasi Pompa Harga Saham Bank Permata dan Vale Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sentimen aksi akuisisi dan kinerja korporasi memicu dua emiten di pasar modal menjadi primadona pelaku pasar, yakni emiten perbankan PT Bank Permata Tbk (BNLI) dan emiten energi PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Sejumlah analis saham menyarankan investor kembali melakukan aksi beli pada dua saham tersebut. Pasalnya, peluang penguatan bagi saham Bank Permata dan Vale Indonesia masih terbuka lebar.

Analis MNC Sekuritas Muhammad Rudy Setiawan menjelaskan isu divestasi saham Bank Permata oleh Standard Chartered Bank yang kembali mencuat pada pertengahan tahun ini berhasil membangkitkan ketertarikan pasar untuk mengonsumsi saham Bank Permata.


"Saat ini investor dapat melihat potensi dari meningkatnya isu merger and acquisitions (M&A) Bank Permata," ucap Rudy kepada CNNIndonesia.com, Senin (28/1).


Dampaknya, harga saham Bank Permata kian melambung. RTI Infokom mencatat dalam satu bulan terakhir, saham Bank Permata sudah naik hingga 68,03 persen, sedangkan bila dilihat satu pekan terakhir saja menguat 45,39 persen.

Saham Bank Permata mulai bangkit atau rebound sejak Kamis (17/1) lalu. Sebelumnya, harga saham perusahaan hanya bergerak pada kisaran Rp500-Rp600 per saham.

Saham Bank Permata kini sudah tembus ke area Rp1.000 per saham. Namun, khusus pada akhir pekan lalu, Jumat (25/1), saham Bank Permata terkoreksi 1,91 persen ke level Rp1.025 per saham.

"Target harga Bank Permata bisa ke level Rp1.200 per saham," sambung Rudy.


Sebagai informasi, sejak tahun lalu memang telah berkembang rumor yang menyebutkan investor asal Jepang tertarik untuk mencaplok Bank Permata dengan membeli saham melalui PT Astra International Tbk (ASII) dan Standard Chartered Bank.

Hanya saja, sampai saat ini belum ada kejelasan dari manajemen Astra International, Standard Chartered Bank, dan Bank Permata terkait informasi yang beredar. Mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Astra International dan Standard Chartered Bank sama-sama mengempit saham Bank Permata sebesar 44,56 persen, sedangkan sisanya digenggam oleh investor ritel.

Rudy berpendapat, kinerja keuangan Bank Permata berpotensi meningkat pasca diakuisisi oleh investor baru. Itu pula yang dinilai oleh sebagian besar pelaku pasar, sehingga mereka tertarik untuk membeli saham Bank Permata.


Maklum saja, kinerja keuangan Bank Permata bukannya membaik tapi justru memburuk pada kuartal III 2018 lalu. Laba bersih perusahaan turun 30,15 persen menjadi Rp494,15 miliar dari posisi kuartal III 2017 yang mencapai Rp707,5 miliar.

Sementara itu, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido menuturkan investor bisa menilik saham dengan volume transaksi tinggi, seperti Vale Indonesia. Jumlah volume transaksi pada saham Vale Indonesia, baik jual dan beli, terus meningkat sepanjang pekan lalu.

"Kalau volume saham besar biasanya ada sesuatu, misalnya seperti ada pemain besar yang masuk atau keluar," terang Kevin.

Kevin merinci jumlah volume transaksi pada Senin (21/1) sebanyak 6,59 juta kali, lalu Selasa (22/1) 8,9 juta kali, Rabu (23/1) 12,45 juta kali, Kamis (24/1) 21,72 kali, dan Jumat (25/1) melonjak menjadi 30,35 juta kali.


"Lalu harga nikel juga bagus naik 1,06 persen per Jumat (25/1). Naiknya cukup signifikan," kata Kevin.

Belum lagi, perusahaan berhasil membukukan keuntungan pada kuartal III 2018 usai merugi pada kuartal yang sama tahun sebelumnya. Vale Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar US$55,21 juta, sedangkan pada kuartal III 2017 merugi sebesar US$19,62 juta.

Tak ayal, harga saham Vale Indonesia melesat 3,12 persen ke level Rp3.640 per saham pada akhir pekan lalu. Bila diukur sejak tiga bulan terakhir, saham Vale Indonesia meningkat 14,11 persen. Kemudian, dalam satu bulan belakangan ini saham perusahaan naik 17,04 persen.

"Kalau valuasi saham sampai akhir tahun bisa ke level Rp4.300 per saham, tapi kalau satu pekan ini saja support-nya bisa Rp3.450 per saham lalu resistance di level Rp3.800 per saham," papar Kevin.

Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi

Hindari Saham LQ-45

Ketika Indeka Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang perkasa, pelaku pasar disarankan menghindari saham berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap) atau yang biasanya masuk dalam indeks LQ-45.

Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo mengatakan mayoritas saham di indeks LQ-45 sudah mahal atau overvalued. Dengan begitu, peluang investor mendapatkan cuan dengan membeli saham big cap dalam jangka satu pekan begitu kecil.

"Saham LQ-45 lebih baik dibatasi pembeliannya karena harga sudah terlalu tinggi," ujar Lucky.

Beberapa saham yang masuk dalam daftar LQ-45, antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Astra International Tbk (ASII).


Sudah menjadi rahasia umum jika saham-saham tersebut memang memiliki andil atau bobot yang cukup besar bagi IHSG. Makanya, pergerakan IHSG selaras dengan saham LQ-45.

"Jadi pelaku pasar memang cenderung menahan untuk melakukan transaksi besar (pada saham LQ-45)," pungkas Lucky.

Sebagai informasi, IHSG sepanjang pekan lalu meningkat 0,54 persen ke level 6.482. Sementara, sejak awal tahun hingga akhir pekan lalu atau year to date (ytd) penguatannya sebesar 4,64 persen. (lav)