Tahun Lalu, Bank Mandiri Kantongi Laba Rp25 Triliun

CNN Indonesia | Senin, 28/01/2019 18:55 WIB
Tahun Lalu, Bank Mandiri Kantongi Laba Rp25 Triliun Ilustrasi Bank Mandiri. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan laba bersih sepanjang tahun lalu mencapai Rp25 triliun, naik 21,2 persen dibandingkan 2017 sebesar Rp20,6 triliun.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan menjelaskan perolehan laba bersih perusahaan masih berasal dari pendapatan bunga bersih yang naik 5,28 persen menjadi sebesar Rp57,3 triliun dari sebelumnya Rp54,45 triliun pada 2017. Realisasi ini sejalan dengan pertumbuhan kredit yang mencapai dua digit.

"Kredit kami tumbuh signifikan dan dengan kualitas yang membaik, naik 12,4 persen," kata Panji, Senin (28/1).


Tahun lalu, Bank Mandiri mencatatkan kredit sebesar Rp820,1 triliun, naik dari 2017 sebesar Rp729,5 triliun. Penyaluran kredit terutama ditopang oleh segmen kredit korporasi dan retail. 


Pandji menyebut kredit di sektor korporasi pada 2018 naik 23,3 persen menjadi Rp325,8 triliun. Penyaluran kredit korporasi terutama didorong oleh sektor infrastruktur. 

"Untuk korporasi ke sektor infrastruktur naik 29,3 persen jadi Rp182,3 triliun atau 63,9 persen dari total komitmen Rp285,4 triliun," jelas Panji.

Perseroan juga mengucurkan kredit korporasi di sektor transportasi sebesar Rp39,5 triliun, migas dan energi terbarukan Rp36,6 triliun, tenaga listrik Rp34 triliun, konstruksi Rp20,9 triliun, jalan Rp15,9 triliun, telematika Rp14,7 triliun, perumahan rakyat dan fasilitas kota Rp10 triliun, dan infrastruktur lainnya Rp10,8 triliun.

Untuk kredit segmen retail, lanjut Panji, jumlah penyalurannya naik 10,52 persen menjadi Rp246,6 triliun, mikro naik 23 persen menjadi Rp102,4 triliun, dan konsumer naik 11,6 persen menjadi Rp87,4 triliun.


Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh perusahaan sepanjang 2018 naik tipis 3,1 persen menjadi Rp840,9 triliun dari sebelumnya Rp815,8 triliun.

"Tapi dari sisi sustainability membaik, ini terlihat dari tingkat average balance DPK yang tumbuh 7,2 persen secara tahunan," terang Kartika.

Ia menambahkan total aset perseroan naik 6,9 persen. Bila pada 2017 jumlah aset sebesar Rp1.038 triliun, tahun lalu tumbuh menjadi Rp1.124 triliun.

(aud/agt)