Mandiri, BRI dan BNI Jadi BUMN dengan Utang Terbesar

CNN Indonesia | Senin, 03/12/2018 20:58 WIB
Mandiri, BRI dan BNI Jadi BUMN dengan Utang Terbesar Ilustrasi utang. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat jumlah utang para perusahaan pelat merah mencapai Rp5.271 triliun per September 2018. Dari total utang itu, sumbangan terbesar diberikan oleh tiga bank pelat merah, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI.

Berdasarkan data Kementerian BUMN, BRI menyumbang utang sebesar Rp1.008 triliun. Sementara itu, utang Bank Mandiri sebesar Rp997 triliun dan BNI Rp660 triliun. Bank pelat merah lainnya; PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memiliki utang Rp249 triliun atau berada di peringkat ke-6 sebagai BUMN yang menyumbang utang terbesar.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Bisnis Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro mengatakan secara kumulatif, jumlah utang dari para bank milik negara mencapai Rp3.311 triliun atau 62,81 persen dari total utang BUMN.


"Komponen utang terbesar berupa Dana Pihak Ketiga mencapai 74 persen," ujarnya di sela rapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (3/12).


Kendati para bank milik negara menyumbang utang terbesar, namun Aloy mengatakan jumlah utang ini tidak mengkhawatirkan. Sebab, DPK yang dikelola para bank digunakan untuk penyaluran kredit yang bermanfaat untuk menggerakkan perekonomian. Selain itu, kinerja para bank BUMN juga masih cukup positif.

Kinerja tersebut terlihat dari besarnya aset, ekuitas, dan pencetakan laba bersih bank tersebut. Tercatat, aset BRI sampai saat ini masih mencapai Rp1.183 triliun atau lebih besar ketimbang utang. Lalu, ekuitas sebesar Rp175 triliun dan laba bersih Rp24 triliun per September 2018.

Sementara aset Bank Mandiri sampai saat ini masih mencapai Rp1.174 triliun, ekuitas Rp176 triliun, dan laba bersih Rp19 triliun. Sedangkan aset BNI masih mencapai Rp764 triliun, ekuitas Rp104 triliun, dan laba bersih Rp11 triliun.

Begitu pula dengan BTN, asetnya mencapai Rp272 triliun, ekuitas Rp23 triliun, dan masih mencetak laba bersih sekitar Rp2 triliun hingga periode yang sama. Sementara sumbangan utang BUMN lainnya diberikan oleh perusahaan pelat merah non keuangan sebesar Rp1.960 triliun.


Untuk utang dari BUMN non keuangan, sumbangan terbesar diberikan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN sebesar Rp543 triliun dan PT Pertamina (Persero) Rp522 triliun. Lalu, PT Tapsen (Persero) sebesar Rp222 triliun, PT Waskita Karya (Persero) Tbk Rp102 triliun, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk Rp99 triliun, dan PT Pupuk Indonesia (Persero) Rp76 triliun.

Sedangkan sisa utang disumbang oleh para BUMN lainnya mencapai Rp793 triliun. Dari 10 besar BUMN penyumbang utang, beberapa perusahaan sejatinya memiliki ekuitas yang minim dan membukukan rugi bersih.


Misalnya, ekuitas PLN sebesar Rp843 triliun. Namun perusahaan saat ini tengah menderita rugi bersih Rp18 triliun. Meski, asetnya cukup tinggi senilai Rp1.386 triliun.

Sementara Pertamina, laba bersihnya hanya Rp5 triliun dengan ekuitas Rp400 triliun dan aset Rp923 triliun. Lalu, laba bersih Taspen hanya Rp100 miliar, Waskita Karya Rp4 triliun, Telkom Rp14 triliun, dan Pupuk Indonesia Rp2 triliun.

Meski nominal utang para perusahaan pelat merah meningkat, namun Aloy masih yakin jika jumlah utang ini berada di batas aman. "Dapat disimpulkan relatif menunjukkan kesanggupan membayar utang jangka panjang dan pendek, serta dapat dikatakan aman," pungkasnya.

(uli/agt)