Bisnis Bahan Bakar Gas Milik Jakpro 'Melarat'

CNN Indonesia | Kamis, 31/01/2019 11:08 WIB
Bisnis Bahan Bakar Gas Milik Jakpro 'Melarat' Deretan Bajaj yang hendak mengisi bahan bakar gas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) milik PT Jakarta Propertindo  (Jakpro) yang dikelola oleh anak usahanya PT Jakarta Utilitas Propertindo (JUP) merugi. Kerugian terjadi karena perseroan harus menanggung selisih harga pembelian gas dengan harga jual dan biaya operasional yang besar.

Corporate Legal and Communication PT Jakarta Utilitas Propertindo Hafidh Fathoni memaparkan saat ini perseroan memiliki tujuh SPBG di wilayah Jabodebek yang terdapat di Ancol, Kramat Jati, Mampang, Rawa Buaya, Perintis Kemerdekaan, Tanah Merdeka, dan Kampung Rambutan. Dari tujuh tersebut, pasokan gas di enam SPBG di antaranya di kerjasamakan dengan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

Sedangkan satu SPBG yang berlokasi di Mampang, gas dipasok dari PT Pertamina Gas (Pertagas). Hafidh menjelaskan pangkal persoalannya adalah enam SPBG yang bekerja sama dengan PGN harus membeli gas dengan menggunakan acuan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Padahal, transaksi yang dilakukan di enam SPBG tersebut menggunakan rupiah.


Dengan kerja sama tersebut, maka bisnis dan kinerja keuangan SPBG tertekan ketika nilai tukar rupiah terdepresiasi. Sebetulnya, kata Hafidh, perseroan masih mengantongi selisih dari harga pembelian dan penjualan.


Namun demikian, selisih tersebut tidak menutupi biaya yang dikeluarkan untuk perawatan mesin dan operator SPBG. Dengan demikian, bukannya meraup untung, Jakarta Utilitas Propertindo justru merugi.

"Dengan melemahnya rupiah terhadap dolar AS, harganya kurang kompetitif. Kami sudah bicara dengan pihak PGN tapi belum ada titik temu. Kalau dari Pertagas masih win-win solution, jadi kami tidak keteteran soal harga," kata Hafidh kepada CNNIndonesia.com, Selasa (29/1).

Kerugian pada bisnis bahan bakar ini, lanjut Hafidh, sudah dialami perseroan sejak dua hingga tiga tahun terakhir. Sayangnya, ia enggan menuturkan berapa besar kerugian yang dialami oleh perseroan.

Di sisi lain, Hafidh mengatakan bisnis penjualan gas memberikan kontribusi besar pada pendapatan perseroan saat ini. Sumbangan SPBG kepada pendapatan perseroan mencapai 50 persen dari total pemasukan. Selain bisnis pengisian bahan bakar, perseroan juga menjalankan bisnis di bidang Water Treatment Plant atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang bekerja sama dengan PAM JAYA dan bisnis area parkir.


"Kami sedang membangun Water Treatment Plant (WTP) di Penjaringan kapasitasnya sementara 500 liter per detik, targetnya Mei sudah bisa operasi. Dengan beroperasinya WTP nanti porsi pendapatan dari SPBG akan sedikit tergeser," imbuhnya. 

Hafidh juga menegaskan pihak Jakarta Utilitas Propertindo maupun Jakarta Propertindo akan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait keberlanjutan maupun penutupan operasional SPBG. Sebab, SPBG ini menyangkut kepentingan publik terutama pelanggan baik dari supir angkot, bajaj, hingga taksi.

"Kami masih pembicaraan dengan pihak semuanya, termasuk pemerintah bagaimana solusinya bagaimana. Kami akan bicarakan baik-baik, kalau ada solusinya tidak akan tutup," jelasnya.

Ia mengaku pihaknya masih mencari solusi baik secara internal maupun eksternal. Dari sisi internal, Hafidh mengatakan Jakarta Utilitas Propertindo akan mencari upaya efisiensi biaya operasional. Sedangkan dari segi eksternal, ia berharap pemerintah bisa memberikan subsidi kewajiban pelayanan publik atau Public Service Obligation (PSO)untukmenjalankanSPBG ini.
(ulf/agt)