Pilpres, BKPM Targetkan Investasi Tumbuh 9,84 Persen di 2019

CNN Indonesia | Rabu, 30/01/2019 14:37 WIB
Pilpres, BKPM Targetkan Investasi Tumbuh 9,84 Persen di 2019 Kepala BKPM Thomas Lembong menargetkan investasi 2019 bisa tumbuh 9,84 persen. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) optimistis realisasi investasi tahun ini bisa menembus Rp792,3 triliun atau tumbuh 9,84 persen ketimbang realisasi 2018 yang hanya mencapai Rop721,3 triliun. Optimisme didasarkan pada pelaksanaan Pemilihan Presiden 2019  dan calon yang berlaga dalam pesta demokrasi tersebut. 

Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan investor menyambut baik paket kebijakan ekonomi yang ditawarkan baik pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno. 

Sambutan positif didapat setelah melakukan diskusi dengan beberapa investor. Dalam diskusi, Thomas menyatakan tetap optimis berinvestasi di Indonesia walau nantinya pemerintahan berganti.


Investor tidak melihat adanya sinyal dari pasangan oposisi yang menunjukkan mereka akan mengganti kebijakan ekonomi bila mereka terpilih. Ketiadaan sinyal tersebut membuat investor yakin ke depan ada kesinambungan kebijakan.


"Meskipun nanti ada kejutan hasil pemilu presiden, pelaku usaha akan tetap kalem karena bahkan pasangan calon oposisi memberikan sentimen pro investasi dan internasionalisasi. Karena preferensi dunia usaha ini adalah stabilitas dan kontinuitas kebijakan," jelas Thomas di kantornya, Rabu (30/1).

Selain itu, pelaku usaha juga melihat gestur yang dilakukan tim pasangan Prabowo-Sandi juga cukup pro ke dunia usaha. Sinyal terlihat ketika tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno  mengajak diskusi para duta besar Uni Eropa.

"Ada upaya berkonsultasi dan banyak komunikasi dengan pihak internasional, dengan ini menurut saya kalangan investor cukup tenang dan tidak ada perubahan jurus kebijakan nantinya," imbuh dia.

Di samping itu menurut Thomas, tren pertumbuhan realisasi investasi memang selalu meningkat pada tahun politik setelah melambat setahun sebelumnya. Pada tahun lalu, realisasi investasi hanya tumbuh 4,1 persen atau lebih rendah dari tahun sebelumnya 13,1 persen.

"Kalau kami lihat sejarah 15 tahun ke belakang, tahun sebelum pemilu akan melambat dan rebound setelah hasil pemilu. Jadi masih ada waktu tujuh bulan pasca nyoblos bagi dunia usaha untuk recover," ungkap dia.


Selain masalah politik, sentimen eksternal bagi investasi tahun ini akan muncul dari kelanjutan diskusi perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Adapun rencananya, kedua negara akan melakukan pembahasan lanjutan dari pertemuan G-20 silam pada 30 hingga 31 Januari ini.

Ia mengakui, realisasi investasi pada tahun lalu melambat karena masalah ini. Tak hanya Indonesia, namun data United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) menyebut bahwa investasi secara global juga turun 20 persen. Hanya saja, ia melihat optimisme investor kembali terbangun sejak kuartal IV kemarin.

Sebetulnya, Thomas mengatakan Indonesia harusnya kecipratan cuan dari perang dagang AS dan China karena banyak perusahaan yang ingin merelokasi usahanya dari China ke negara lain. Indonesia, lanjutnya, merupakan salah satu pilihan utama investor selain India.

(glh/agt)