Hanya saja, Plt Deputi Bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Farah Ratnadewi Indriani mengatakan pertumbuhan ini melambat dibanding capaian 2017 lalu yang sebesar 13,1 persen. Selain itu, jumlah ini pun meleset dari target yang ditetapkan sebelumnya, yakni Rp765 triliun.
"Memang investasi bertumbuh, tapi melambat. Investasi ini pun tidak memasukkan hulu migas, perbankan, lembaga keuangan non-bank, sewa guna usaha, dan industri rumah tangga," jelasnya di Gedung BKPM, Rabu (30/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal ini, Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan faktor utama yang mempengaruhi realisasi PMA di tahun lalu adalah perang dagang antara China dan Amerika Serikat yang dimulai sejak April tahun lalu.
Menurut dia, eskalasi perang dagang ini membuat seluruh realisasi investasi riil global melemah. Ia mengutip data United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) yang menyebut bahwa investasi secara global turun 20 persen.
"Tapi menjelang kuartal IV ini eskalasi perang dagang mulai reda, dan kepercayaan mulai pulih," imbuhnya.
Selain masalah perang dagang, kondisi jelang pemilihan presiden juga mempengaruhi sentimen investor asing terhadap Indonesia. Namun, secara tren, realisasi investasi setahun sebelum pemilu memang melambat tapi akan cepat terangkat saat pemilu selesai.
"Kepercayaan investor biasanya mulai terangkat setelah masa pemilu. Masih ada waktu tujuh bulan setelah nyoblos untuk meningkatkan PMA," tandas dia.
"Tapi menjelang kuartal IV ini eskalasi perang dagang mulai reda, dan kepercayaan mulai pulih," imbuhnya.
Selain masalah perang dagang, kondisi jelang pemilihan presiden juga mempengaruhi sentimen investor asing terhadap Indonesia. Namun, secara tren, realisasi investasi setahun sebelum pemilu memang melambat tapi akan cepat terangkat saat pemilu selesai.
"Kepercayaan investor biasanya mulai terangkat setelah masa pemilu. Masih ada waktu tujuh bulan setelah nyoblos untuk meningkatkan PMA," tandas dia.