Direktur Utama BRI Suprajarto menjelaskan penopang utama pertumbuhan laba bersih perusahaan masih berasal dari penyaluran kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebesar Rp645,7 triliun. Porsi kredit pada segmen tersebut mencapai 76,5 persen dari total kredit.
"Total kredit kami Rp843,6 triliun atau bisa dibilang naik 14 ,1 persen dari Desember 2017 sebesar Rp739,3 triliun," ucap Suprajarto, Rabu (30/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proporsi kredit UMKM pada 2017 sebesar 75,6 persen," imbuh Suprajarto.
Namun, kenaikan kredit ini tak disertai dengan penurunan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Pada akhir Desember 2018, NPL gross perusahaan sebesar 2,2 persen atau stagnan dibandingkan akhir 2017 lalu.
Lebih lanjut Suprajarto menjelaskan perusahaan tahun lalu berhasil meningkatkan efisiensi dalam mengoperasikan bisnis. Terbukti, beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pada Desember 2018 sebesar 70 persen, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya 70,7 persen.
Dari sisi dana pihak ketiga (DPK), Suprajarto menambahkan posisinya naik 12,2 persen menjadi Rp944,3 triliun. Sementara, aset perusahaan juga tumbuh 15,2 persen menjadi Rp1.296 triliun.
"Perusahaan berhasil mempertahankan kinerja positif di tengah kondisi ekonomi yang cukup menantang pada 2018," pungkas Suprajarto. (aud/agi)